KUNINGAN — Perubahan cuaca ekstrem pada masa pancaroba berdampak langsung pada lonjakan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 45 Kuningan sepanjang September 2026. Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjadi lini pelayanan yang mencatatkan kenaikan paling drastis, yakni mencapai 62 persen.

Tak hanya IGD, data manajemen RSUD 45 mencatat kunjungan rawat jalan ikut meroket hingga 40 persen, disusul kenaikan angka rawat inap sebesar 21 persen.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD 45 Kuningan, dr. Yanuar Firdaus Sukardi, menegaskan bahwa pemandangan padatnya pasien di rumah sakit rujukan tipe B tersebut murni disebabkan oleh tingginya paparan penyakit, bukan akibat penumpukan atau penundaan antrean (waiting list).

“Bukan waiting list, tapi murni peningkatan kasus yang suspek influenza tipe A,” tegas dr. Yanuar saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026).

Imunitas Anak Rentan, Waspadai DBD hingga Diare

Yanuar menjelaskan, dinamika cuaca pancaroba yang berganti cepat antara panas terik dan hujan deras membuat daya tahan tubuh masyarakat menurun. Virus influenza tipe A yang menular cepat lewat partikel pernapasan (droplet) menjadi salah satu pemicu utama masuknya puluhan pasien setiap hari.

Kelompok anak-anak menjadi yang paling rentan terpapar akibat sistem imunitas yang belum sekuat orang dewasa. Selain infeksi saluran pernapasan, RSUD 45 juga mewaspadai ancaman penyakit khas pancaroba lainnya seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), tifoid (tipes), dan diare.

Manajemen Siapkan Ruangan Ekstra untuk Pasien BPJS

Guna mengantisipasi lonjakan yang terus mengalir, terutama dari pasien rujukan BPJS Kesehatan, manajemen RSUD 45 bergerak cepat melakukan penyesuaian kapasitas bed (tempat tidur) dan ruang perawatan.

Jika ruangan spesifik seperti penyakit dalam, anak, bedah, atau kebidanan sudah terisi penuh, RSUD 45 memanfaatkan ruangan cadangan lintas bangsal agar seluruh pasien tetap tertangani secara medis.

“Ketika ketersediaan ruangan utama sudah full, kami langsung mengaktifkan ruangan lain. Langkah penambahan ruangan ini bukan berarti kita kekurangan fasilitas, melainkan bentuk respons cepat pengaturan kapasitas agar pelayanan tetap berjalan optimal,” pungkas Yanuar. ***