
KUNINGAN – Setelah menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran selama musim kemarau, Kabupaten Kuningan kini mulai bersiap menghadapi potensi bencana yang menyertai datangnya musim penghujan. Banjir, longsor, dan pergerakan tanah menjadi ancaman yang perlu diwaspadai di sejumlah wilayah.
Perubahan karakter ancaman bencana tersebut menjadi perhatian Pemkab Kuningan. Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar menyebut, banjir yang sebelumnya relatif jarang terjadi kini mulai muncul di sejumlah wilayah.
“Semakin hari potensi ini semakin meningkat eskalasinya,” ujar Dian saat membuka Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana bagi pegawai BPBD Kabupaten Kuningan dan relawan penanggulangan bencana di kawasan Wisata Talaga Surian, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, kondisi geografis, geologis, klimatologis, serta kependudukan Kuningan membuat kota kuda memiliki potensi bencana yang cukup kompleks.
Saat musim penghujan, kata dia, curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, dan pergerakan tanah. Sementara ketika kemarau, ancaman bergeser pada kekeringan serta kebakaran lahan dan hutan.
“Persoalan ini bukan hanya ditangani oleh pemerintah semata, tapi persoalan kita bersama,” katanya.
Oleh karena itu, menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh dilakukan setelah bencana terjadi. Upaya pencegahan dan mitigasi harus diperkuat sejak dini, terutama ketika daerah mulai memasuki periode perubahan musim.
Penguatan kesiapsiagaan tersebut salah satunya dilakukan melalui pelatihan yang diikuti sekitar 160 pegawai BPBD Kabupaten Kuningan dan relawan penanggulangan bencana.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari itu menghadirkan narasumber dari BPBD Provinsi Jawa Barat, BMKG, dan Basarnas. Para peserta mendapat penguatan kapasitas dalam menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari pencegahan dan mitigasi hingga respons ketika bencana terjadi.
Dian mengatakan, meningkatnya ancaman bencana juga perlu diimbangi dengan semakin luasnya keterlibatan masyarakat.
Sebab, dengan jumlah penduduk Kuningan yang mencapai sekitar 1,2 juta jiwa, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam menghadapi seluruh potensi bencana.
“Dari sekitar 1,2 juta penduduk Kuningan, bisa saya bayangkan misalnya satu persen saja yang militan, yang betul-betul sangat cinta terhadap persoalan ini, saya kira ini sangat terbantu,” ujarnya.
Ia pun mengapresiasi keberadaan relawan, komunitas, pegiat lingkungan, hingga kelompok masyarakat yang selama ini ikut membantu ketika terjadi bencana maupun keadaan darurat.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat harus terus diperluas. Tidak hanya mereka yang secara khusus bergerak di bidang kebencanaan, tetapi juga kelompok masyarakat lainnya.
Dian mencontohkan Mojang Jajaka Kuningan yang selama ini dikenal dalam bidang promosi pariwisata, namun harus turut mengambil bagian dalam persoalan lingkungan dan kebencanaan.
Di sisi lain, ancaman kebakaran masih menjadi perhatian karena musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober. Sejumlah titik kebakaran kembali muncul, termasuk di kawasan lereng Gunung Ciremai dan lahan milik masyarakat.
Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kemungkinan pembakaran yang disengaja.





