Sekolah, menurutnya, merupakan laboratorium demokrasi paling dekat. Pemilihan ketua OSIS, musyawarah kelas, hingga diskusi organisasi siswa adalah praktik nyata partisipasi dan akuntabilitas. Dari proses kecil inilah, kesadaran politik tumbuh sebagai kebiasaan, bukan kewajiban.
Kegiatan ini juga menghadirkan motivator muda, Kang Imam, yang menekankan pentingnya etika dan integritas dalam demokrasi. Ia mengajak siswa melihat politik bukan sebagai arena konflik semata, tetapi ruang kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan bersama.
Upaya membawa pendidikan demokrasi ke sekolah mencerminkan kesadaran bahwa krisis kepercayaan terhadap politik tidak bisa diselesaikan hanya melalui kampanye menjelang pemilu. Ia membutuhkan investasi jangka panjang melalui pendidikan formal. Ketika siswa memahami peran mereka sebagai warga negara, mereka tidak hanya menjadi pemilih, tetapi pengawal kebijakan publik.
Dari ruang kelas SMK Negeri 3 Kuningan, pesan itu ditegaskan: masa depan demokrasi tidak ditentukan di bilik suara semata, melainkan dibentuk sejak bangku sekolah tempat generasi muda belajar bahwa suara mereka berarti. (ali)
