
KUNINGAN — Senin siang, (29/12/2025), Jalan Mohammad Hatta di Kelurahan Cijoho tidak sedang dilalap api. Tidak ada asap hitam yang membubung atau jeritan minta tolong karena ancaman maut. Namun, bagi Miftah, seorang wiraswasta muda berusia 26 tahun, situasi itu tetaplah sebuah keadaan darurat yang menyesakkan dada.
Akar masalahnya sederhana namun fatal di era digital, sebuah telepon genggam meluncur bebas dari tasnya dan tertelan gelapnya selokan sempit di tepi jalan.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu, Miftah sedang asyik membersihkan halaman tempat kerjanya. Tanpa disadari, resleting tas yang melampir di bahunya terbuka. Dalam satu gerakan ceroboh, ponsel yang menjadi nyawa bagi aktivitasnya itu meluncur, membentur aspal, dan berakhir di dasar saluran air yang licin dan berarus.
Bagi orang lain, ini mungkin hanya kecerobohan kecil. Namun bagi Miftah, hilangnya ponsel itu berarti hilangnya data pelanggan, komunikasi bisnis, hingga akses perbankan digital. Upaya penyelamatan mandiri dilakukan, namun selokan yang tertutup rapat dengan beton dan diberi sela ram besi sempit itu membuat posisi barang yang sulit dijangkau membuat tangannya tak kuasa menggapai.
Putus asa, Miftah meminta bantuan warga untuk menghubungi call center Pemadam Kebakaran Kabupaten Kuningan. Laporan masuk tepat pukul 13.45 WIB. Di ujung telepon, petugas menerima laporan tersebut bukan dengan tawa meremehkan, melainkan dengan profesionalitas yang sama saat menerima laporan kebakaran gedung.
Tepat pukul 14.50 WIB, tiga personel dari Regu 2 meluncur ke lokasi menggunakan kendaraan respons cepat (RR). Mereka datang dengan seragam lengkap, bukan untuk menjinakkan jago merah, melainkan untuk menjinakkan kepanikan seorang warga.
Tanpa banyak bicara, para petugas ini langsung melakukan pemetaan. Mereka melihat arus air dan posisi ponsel agar tidak hanyut lebih jauh ke gorong-gorong yang lebih dalam. Dengan menggunakan alat khusus dan teknik evakuasi presisi, hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi tim Damkar Kuningan ini untuk mengangkat perangkat basah tersebut dari dasar selokan.
Bagi Miftah, kepulangan ponselnya adalah mukjizat kecil di akhir tahun. Namun lebih dari itu, ia mengaku tertegun dengan kecepatan respons petugas. “Saya sempat ragu mau lapor, apa iya Damkar mau urus HP jatuh? Ternyata mereka langsung datang. Ini benar-benar sangat membantu,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Aksi penyelamatan di Jalan Mohammad Hatta ini kembali menegaskan transformasi peran Pemadam Kebakaran Kuningan. Mereka telah berevolusi menjadi garda terdepan “penolong segala urusan”. Di bawah naungan regulasi daerah tentang ketertiban umum, Damkar kini menjadi tumpuan warga untuk urusan-urusan mulai dari pelepasan cincin yang mencekik jari, evakuasi sarang tawon, hingga penyelamatan barang berharga di tempat sulit.
Di tengah hiruk-pikuk pergantian tahun yang biasanya diisi dengan agenda-agenda besar pemerintah, aksi penyelamatan ponsel ini menghadirkan wajah birokrasi yang sangat manusiawi. Ia membuktikan bahwa kehadiran negara tidak melulu soal kebijakan makro atau infrastruktur miliaran rupiah, tapi juga soal hadirnya tiga orang petugas berseragam yang mau berlutut di pinggir selokan demi menyelamatkan harapan seorang warganya.
Ponsel Miftah mungkin perlu dikeringkan, namun kepercayaan publik terhadap dedikasi petugas Damkar Kuningan justru sedang mekar-mekarnya. (ali)





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.