
KUNINGAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya informasi mengenai peningkatan kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD 45 Kuningan serta pemberitaan terkait dugaan peningkatan kasus influenza.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. Edi Martono, mengatakan kondisi tersebut memang perlu menjadi perhatian dan direspons dengan langkah antisipasi yang terukur. Namun, masyarakat diimbau tidak menyikapinya secara berlebihan maupun panik.
“Yang paling penting masyarakat tetap tenang, tetapi waspada. Kami tidak ingin mengambil kesimpulan bahwa peningkatan kunjungan IGD seluruhnya disebabkan oleh influenza sebelum ada data surveilans dan pemeriksaan laboratorium yang mendukung,” ujar dr. Edi, Selasa, (29/9/2026).
Secara nasional, kata dia, Kementerian Kesehatan mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia pada periode Agustus – September 2026. Meski demikian, berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke- 38, aktivitas influenza secara nasional masih berada pada kategori medium dan belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Dalam surveilans nasional tersebut, menurutnya, influenza A(H1N1)pdm09 menjadi jenis influenza yang paling banyak ditemukan.
Sementara itu, untuk kondisi di Kabupaten Kuningan, Dinas Kesehatan masih melakukan pemantauan dan tidak serta-merta mengaitkan peningkatan kunjungan pasien ke IGD dengan influenza A.
Menurutnya, keluhan seperti demam, batuk, pilek, sesak napas maupun infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Gejala klinis semata belum cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi influenza.
“Untuk memastikan influenza diperlukan pemeriksaan sesuai indikasi medis dan didukung hasil surveilans laboratorium. Karena itu, kami terus memperkuat pemantauan agar gambaran situasi di Kuningan benar-benar berdasarkan data,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan akan memperkuat surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di puskesmas maupun rumah sakit, terutama terhadap peningkatan kasus dengan gejala infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap tren kunjungan pasien dengan keluhan demam, batuk, pilek dan gangguan pernapasan. Pemantauan terhadap kunjungan IGD dan rawat inap juga akan dilakukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan yang signifikan dan berlangsung secara berkelanjutan.
Pihaknya juga memperkuat koordinasi dengan RSUD 45 Kuningan, rumah sakit lainnya, puskesmas dan laboratorium untuk memperoleh gambaran epidemiologis yang lebih akurat sekaligus memastikan kesiapan pelayanan kesehatan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien.
Kesiapan tersebut mencakup tenaga kesehatan, ruang pelayanan, obat-obatan, alat kesehatan hingga sistem rujukan.
Di sisi lain, masyarakat diminta turut berperan dalam mencegah penularan penyakit saluran pernapasan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di tempat yang padat.
Masyarakat yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan juga dianjurkan mengurangi kontak dekat dengan orang lain untuk mencegah kemungkinan penularan.
Kadinkes mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, demam tinggi yang menetap, kondisi yang semakin memburuk, atau tanda kegawatan lainnya. Kewaspadaan lebih tinggi perlu diberikan terhadap bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
“Kami mengajak masyarakat Kuningan untuk tetap tenang tetapi waspada. Dinas Kesehatan bersama seluruh fasilitas pelayanan kesehatan akan terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah sesuai hasil surveilans serta kondisi di lapangan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kondisi yang saat ini terpantau di Kabupaten Kuningan belum dapat disebut sebagai wabah. Penetapan suatu kondisi sebagai kejadian luar biasa atau wabah memerlukan indikator epidemiologis yang jelas serta dukungan data surveilans dan pemeriksaan laboratorium.
“Belum bisa kita sebut sebagai wabah. Untuk menyimpulkan bahwa peningkatan kasus ini disebabkan oleh influenza, termasuk influenza A, tentu harus ada pemeriksaan laboratorium yang mendukung. Jadi jangan sampai hanya berdasarkan gejala atau meningkatnya kunjungan pasien kemudian langsung disimpulkan sebagai influenza A,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kewaspadaan tidak berarti masyarakat harus panik. Sebaliknya, masyarakat diharapkan mampu mengenali gejala, menerapkan pencegahan dan segera mencari pertolongan apabila kondisi kesehatan memburuk.
“Prinsip kami sederhana, jangan panik, jangan abai, tetapi tetap waspada dan segera berobat apabila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi berat,” tutupnya.





