“Ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga kualitas data. Data yang akurat dan real-time menjadi dasar pengambilan kebijakan,” kata Wahyu.
Dalam Rakor tersebut, dipaparkan pula program dukungan LTT 2026 lintas subsektor. Pada subsektor serealia, intervensi meliputi penyediaan benih padi, termasuk varietas biofortifikasi, pengembangan padi gogo, serta budidaya efisien dan ramah lingkungan. Pemerintah daerah juga mengalokasikan dukungan melalui APBD untuk program Benih untuk Rakyat Meningkatkan Produktivitas (BERNAS) seluas 750 hektare serta penguatan komoditas jagung.
Pada subsektor prasarana dan sarana pertanian, lanjut Wahyu, program difokuskan pada optimalisasi lahan seluas 700 hektare, pembangunan dan rehabilitasi sumber air, jaringan irigasi tersier, serta pengembangan sistem perpompaan dan pipanisasi.
Sementara itu, pada subsektor aneka kacang dan umbi, pengembangan terus diperkuat melalui usulan perluasan tanam, meliputi ubi jalar seluas 285 hektare, kacang hijau 119 hektare, dan kedelai 165 hektare sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan.
Wahyu menegaskan, capaian LTT bulanan di daerah menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi pangan nasional. “Setiap capaian bulanan memiliki kontribusi terhadap target nasional. Karena itu, kami harus memastikan target bulan Maret ini tercapai dengan baik,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani, Kuningan mampu menjaga konsistensi kinerja sekaligus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penopang produksi pangan di Jawa Barat. (rls/cp)
