BEKASI – Pemanfaatan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari membawa banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi keluarga. Penyebaran informasi palsu, penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, hingga berkurangnya kualitas komunikasi antar anggota keluarga menjadi persoalan yang perlu dihadapi dengan pengetahuan dan sikap yang tepat.
‎
‎Menjawab tantangan tersebut, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PM) bertajuk Penguatan Literasi Digital dalam Meningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial Keluarga Majelis Taklim Al Ikhlas di Jati Mulya, Bekasi Timur, Senin (12/10/2026).
‎
‎Kegiatan tersebut fokus pada peningkatan pemahaman masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, produktif, dan bertanggung jawab, baik dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial.
‎
‎Di tengah derasnya arus informasi melalui telepon pintar dan media sosial, literasi digital tidak cukup hanya dengan kemampuan mengoperasikan perangkat. Masyarakat juga perlu memiliki kecakapan untuk memilah informasi, mengenali potensi penipuan, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta memahami etika berkomunikasi di ruang digital.
‎
‎Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Suhardoyo, menyampaikan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
‎
‎Menurutnya, penguatan literasi digital menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami manfaat, risiko, dan tanggung jawab yang menyertainya. Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan sosial.
‎
‎Dalam pemaparan materi, A. Sudrajat, menekankan bahwa literasi digital mencakup kemampuan menggunakan teknologi secara positif, mengevaluasi informasi yang diterima, menjaga privasi, dan menerapkan etika dalam komunikasi digital.
‎
‎Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika informasi dari berbagai sumber beredar dengan cepat dan tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan. Membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, tidak sembarangan mengeklik tautan, serta menjaga kerahasiaan data pribadi merupakan langkah sederhana yang dapat membantu keluarga terhindar dari berbagai risiko di ruang digital.
‎
‎Penggunaan teknologi yang sehat, kata dia, perlu diimbangi dengan komunikasi yang terbuka, sikap saling menghormati, dan pengaturan waktu penggunaan perangkat. Teknologi seharusnya mendukung hubungan antaranggota keluarga, bukan justru mengurangi kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.
‎
‎Dalam konteks tersebut, pengurus Majelis Taklim Al-Ikhlas memiliki peluang untuk menjadi penggerak edukasi digital di lingkungan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peserta sosialisasi, tetapi dapat diteruskan kepada anggota majelis taklim dan keluarga masing-masing. Dengan cara tersebut, pemahaman mengenai penggunaan teknologi yang aman dan bertanggung jawab dapat berkembang menjadi kebiasaan bersama.
‎
‎Pendekatan berbasis komunitas juga penting karena tantangan digital tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui kemampuan individu. Dukungan keluarga, komunikasi antarwarga, dan kepedulian untuk saling mengingatkan menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sosial yang lebih tangguh dalam menghadapi informasi yang menyesatkan maupun berbagai bentuk kejahatan digital.
‎
‎Melalui kegiatan tersebut, UBSI mendorong agar penguatan literasi digital menjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan. Pemahaman masyarakat perlu terus diperkuat melalui penerapan dalam kehidupan sehari-hari, berbagi pengetahuan, dan pembiasaan perilaku digital yang sehat.***