Di bawah terik matahari yang menyengat

Lelaki muda berjalan terseok

Sandal jepit kini tinggal jepitnya saja

Tampang amat kumal

Mengambil air di sungai dan melepas dahaga

Simpul senyum terukir

Entah apa pikirannya

Tanah kering kerontang

Petani miskin menggembala sapi di timur

Di kejauhan gadis cantik menggunakan satin tampak menggoda

Melihat perjaka yang penuh prihatin

Tangan terulur dan meraih jemari lentik

Itu awal

Bertahun lamanya lelaki itu kini menjelma menjadi orang dengan sandal yang berubah warna

Berubah bukan menyedihkan

Kini disampingnya berdiri gadis muda di tembok dinding

Bos tanah. Dia menguasai dan kini berubah penuh total

Bahkan warung kelontongan bergaya modern membanjiri kota kuda itu

Lelaki itu datang dari negeri antah berantah

Terlihat dari pinggir pantai dan gersang

Muka hitam yang legam tak pupus bahkan hingga kini

Meski jam tangan mahal memahkotai status barunya

Pedagang tanah

Senja datang mata tua menatap gunung yang menjulang hijau permai itu

Entah apa pikirannya hanya senyum lebih mengembang

Entah sejak kapan. Dan kini beberapa

Perlahan tapi pasti kebun hijaunya sudah disulap jadi praktek denyut nadi

Mungkin banyak

Dan di samping air terjun yang menghangat dari bumi

Pohon diperbanyak. Pohon liar ditebangnya

Reboisasi ulang katanya

Esok hari yang tenang kini berubah

Ban dibakar dijalanan

Suara lantang bersahutan

Suara suram penolakan dirinya

Penolakan pendatang yang menjelma menjadi rakus

Kini raut sesal tampak di wajah penduduk

Ada yang memanjat doa

Ada yang mengutuk diam

Ada yang melempari kotoran

Ada yang mencerca

Bahkan penuh niat tak baik

Tak baik di ungkapkan

Penuh sumpah serapah

Tapi adakah dia merenung

Adakah dia menyesali

Senyum itu jika dipandang lekat tampak sinis

Simpulnya bengis. Kening ketegasan penuh serakah

Entah dendam apa pada warga itu

Tragis dan menyedihkan

Warga miskin yang masa bodo hanya geleng bahkan tak pernah berfikir akan begini

Suara suram memekak telinga

Telinga ditutup disumpal

Mulut sebagian disumpal sulam merah darah

Berlogo peci hitam

Hendak pergi tapi malu kucing

Mobil mewah berderit berhenti menatap arogan

Matahari yang sama

Langkah yang berubah

Disudut papan tulis skema hitam bertuliskan

Tuntaskan

Penulis: Rudi