
KUNINGAN – Gema kemenangan Proton FC Kuningan setelah menumpas Hampton FC Surabaya di GOR Bung Karno, Sukoharjo, belum juga surut. Trofi Pro Futsal League (PFL) 2 Indonesia yang kini bersemayam di Kuningan bukan sekadar simbol supremasi, melainkan tiket resmi menuju panggung elite PFL 1 musim depan. Namun, di balik karpet merah dan seremoni hangat di Ruang Rapat Papandayan, Gedung Sate, Kamis (2/7/2026), sebuah sinyal peringatan dini justru ditiupkan dari episentrum sepak bola Jawa Barat.
Adhitia Putra Herawan, Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, yang hadir di antara jajaran pejabat teras Pemprov Jabar, tak ingin euforia ini melahirkan kepuasan yang prematur. Sebagai figur yang membidani manajemen Maung Bandung, Adhitia tahu persis hukum besi industri olahraga mendaki ke puncak itu berat, namun bertahan di sana jauh lebih kejam.
“Sebetulnya kami yang banyak belajar dari Proton FC. Baru dua atau tiga tahun, tetapi manajemen dan tata kelolanya sudah sangat baik. Alhamdulillah, sekarang bisa membawa pulang piala nasional. Mungkin Jawa Barat memang pantas disebut sebagai Province of Champions,” ujar Adhitia, memberikan kredit khusus bagi cetak biru yang dirancang Presiden Proton FC, Thony Indra Gunawan.
Bagi Adhitia, konvoi kemenangan dan sorak-sorai publik Kuningan adalah hilir dari sebuah proses panjang yang sunyi dan berdarah-darah di hulu. Berbicara di depan punggawa Proton FC, ia mengaitkan metamorfosis klub futsal amatir ini dengan pasang surut Persib Bandung dalam memburu takhta tertinggi sepak bola tanah air.
“Saat melihat pawai kemenangan Proton FC, saya hanya bisa tersenyum karena tahu betapa luar biasa perjuangan mereka. Tidak mungkin sejarah bisa tercipta tanpa rasa sakit,” kenang Adhitia. Narasi “rasa sakit” itu merujuk pada kompetisi ketat selama tujuh bulan terakhir yang menguras energi, air mata, dan stabilitas finansial klub pendatang baru.
Namun, panggung PFL 1 yang akan bergulir September mendatang tidak akan memberi ruang bagi romantisme masa lalu. Adhitia meniupkan sengat realitas agar skuad Proton FC segera merombak mentalitas mereka dari seorang pemburu menjadi seorang bertahan. Musuh terbesar seorang juara baru, menurutnya, adalah keraguan yang menyelinap di sela-sela pujian.
“Saya ingin teman-teman Proton FC selalu menanamkan keinginan untuk menjadi juara. Jangan pernah ada sedikit pun keraguan dalam hati, karena keraguan bisa memengaruhi mental seluruh tim. Mental juara harus terus dijaga dengan energi positif, meskipun di luar banyak energi negatif,” ujar Adhitia dengan nada retoris yang tajam.
Di mata petinggi Persib ini, anatomi tim besar tidak diukur dari seberapa sering mereka menang, melainkan bagaimana mereka merespons kekalahan di lapangan. PFL 1 dipastikan diisi oleh klub-klub mapan dengan intensitas taktik yang jauh lebih rumit dan agresif. Kehilangan poin atau kegagalan mengeksekusi peluang di kasta tertinggi bisa menjadi pembunuh berdarah dingin bagi mental tim yang rapuh.
“Ketika gagal mencetak gol atau mengalami kekalahan, jangan pernah kehilangan semangat. Tetap optimistis dan terus bangun mental juara. Itulah yang membedakan tim besar dengan tim biasa,” tegasnya lagi.
Menutup wejangannya di Gedung Sate, Adhitia menyelipkan satu aspek krusial yang kerap luput dari papan strategi pelatih, jangkar emosional di luar lapangan. Ia mengingatkan para pemain bahwa taktik modern dan fisik prima akan lumpuh tanpa dukungan moral dari lingkaran terdekat.
“Jangan lupa selalu meminta doa kepada ibu atau istri sebelum bertanding. Doa orang-orang terdekat adalah energi yang sangat besar untuk membawa kita meraih kemenangan,” pungkas Adhitia.
Bagi Thony Indra Gunawan dan skuad Proton FC, wejangan dari petinggi Persib ini adalah modal investigatoris yang mahal. PFL 1 tinggal menghitung bulan, dan arloji persiapan di Kuningan kini berdetak jauh lebih kencang.***




