Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Cerpen

Tepuk Tangan yang Retak

Nama Arga tertera di layar aula itu, disandingkan dengan frasa yang terdengar agung, Nominasi Pemuda Inspiratif Tahun Ini. Tepuk tangan mengalun, sebagian keras, sebagian sekadar formalitas. Arga berdiri, tersenyum tipis, dan menundukkan kepala. Dari barisan kursi, ucapan selamat mengalir seperti arus yang tak bisa ia tolak.

“Luar biasa, Arga.” “Pantas sekali.” “Anak muda visioner.”

Kalimat-kalimat itu mendarat rapi di telinganya. Namun Arga tahu, sebagian dari pujian itu memiliki nada ganda. Ia pernah mendengar tawa yang sama, hanya saja tanpa mikrofon dan tanpa lampu panggung.

Di sudut aula, beberapa wajah yang tadi bertepuk tangan kini saling berbisik. Tawa kecil pecah, lalu mengeras, seperti sengaja tidak disembunyikan. Bagi mereka, penghargaan ini adalah anomali. Terlalu ganjil untuk dipercaya. Mereka mengenal betul rekam jejak Arga, langkah-langkah cepatnya, jalur yang tampak terlalu mulus, dan kehadiran satu nama yang selalu menyertainya di setiap pencapaian.

“Pemuda inspiratif?” seseorang berbisik, lalu tertawa lepas. “Inspirasi dari siapa?”Pujian itu berubah menjadi sindiran yang tak diucapkan. Seolah-olah prestasi Arga adalah kostum pinjaman yang sewaktu-waktu harus dikembalikan.

Arga merasakan panas di tengkuknya, tapi ia tetap berdiri tegak. Ia tidak marah. Ia hanya lelah. Ia paham mengapa mereka tertawa. Di setiap langkahnya, memang ada sosok pemimpin yang selalu ia tempel, mentor, pelindung, sekaligus bayangan. Sosok yang membuka pintu, mengajarkan strategi, dan memberinya ruang belajar. Tanpa sosok itu, Arga mungkin masih berkutat di lorong sempit yang tak bernama.

Namun mereka lupa satu hal bahwa pintu yang terbuka tak akan berarti jika seseorang tak berani melangkah masuk.

Arga tidak menyangkal bahwa ia dibentuk. Ia diasah. Ia diarahkan. Tapi setiap keputusan, setiap kegagalan, setiap malam tanpa tidur itu ia jalani sendiri. Kepiawaiannya bukan hadiah instan, melainkan hasil mengamati, meniru, lalu berani berdiri dengan caranya sendiri.

Baca Juga :  Polisi: Bukan sekedar Penyidik tetapi Penjaga Keseimbangan Keadilan

Di antara tawa yang masih tersisa, Arga kembali duduk. Tepuk tangan mereda, acara berlanjut. Di wajah-wajah yang tadi menertawakannya, ia melihat pengakuan yang tak terucap, bahwa ia memang cakap, meski lahir dari bayang-bayang.

Dan mungkin, pikir Arga, inspirasi memang tak selalu lahir dari jalan sunyi. Kadang ia tumbuh dari keberanian mengakui aku dibimbing, tapi aku melangkah sendiri.

Cerita ini hanya fiksi belaka, Jangan lupa ngopi by Ali

Leave a Comment