CIREBON — Di tengah pesatnya pembangunan fisik yang terus mengubah wajah Kota Cirebon, kegelisahan justru tumbuh di kalangan pegiat seni dan budaya. Majelis Seni dan Tradisi (MESTi) Kota Cirebon menyuarakan kekhawatiran akan makin terpinggirkannya aset sejarah dan tokoh-tokoh penting yang membentuk identitas kota.
Dalam berbagai forum diskusi dan audiensi, MESTi menyoroti minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap figur-figur bersejarah seperti Mayor Tan Tjin Kie dan ulama kharismatik Kang Ayip Muh. Aspirasi tersebut kini mendapat respons dari DPRD Kota Cirebon.
Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Rinna Suryanti, menilai persoalan ini bukan hanya isu kebudayaan, tetapi menyangkut arah pembangunan kota secara menyeluruh. Menurutnya, sejarah dan cagar budaya seharusnya menjadi fondasi dalam perencanaan pembangunan, bukan sekadar pelengkap.
“Aspirasi ini harus dibaca sebagai indikator sejauh mana Pemerintah Kota Cirebon menempatkan sejarah dan cagar budaya dalam visi pembangunan kota,” kata Rinna, Senin (9/2/2026).
Ia menegaskan, penghormatan terhadap tokoh-tokoh sejarah semestinya tercermin dalam dokumen perencanaan resmi, baik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Tanpa landasan tersebut, upaya pelestarian akan berjalan tanpa arah dan mudah terpinggirkan oleh kepentingan lain.
Salah satu isu yang mengemuka adalah ancaman pemindahan makam Mayor Tan Tjin Kie ke daerah lain. Menurut Rinna, kondisi itu menunjukkan belum adanya kebijakan konkret yang menjamin perlindungan aset sejarah.
“Jika aset yang melekat dengan identitas kota tidak terlindungi, berarti ada kelemahan dalam menerjemahkan visi pembangunan ke kebijakan operasional,” ujarnya.
Mayor Tan Tjin Kie dikenal sebagai saudagar dan dermawan yang berperan besar dalam sejarah ekonomi Cirebon. Ia merepresentasikan kontribusi masyarakat Tionghoa dalam membangun kota ini sebagai pusat perdagangan yang inklusif dan multikultural.
Sementara itu, Kang Ayip Muh dari Pesantren Jagasatru dikenang sebagai tokoh yang memperkuat kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat. Perannya turut membentuk citra Cirebon sebagai kota santri yang religius, moderat, dan toleran.
