Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s
Kuningan

Gagal Bertemu Bupati Kuningan, Haji Dirja Pilih Menahan Demo Warga dan Menunggu Respons

Tokoh masyarakat desa Pasawahan, H. Sudirja

KUNINGAN — Gagal bertemu Bupati Kuningan, H. Sudirja atau sapaan akrab Haji Dirja memilih menahan rencana demonstrasi ratusan warga penggarap batu dari Desa Pasawahan dan Padabeunghar. Didampingi Jojo serta perwakilan sopir dan pekerja pemecah batu, ia datang ke Pendopo Kuningan untuk mencari jalan keluar atas terhentinya aktivitas yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan warga.

“Kami datang ke pendopo dalam rangka membawa misi yang baik. Baik untuk bagaimana caranya meredam gejolak Masyarakat,” ungkap Haji Dirja. Selasa (10/2/2026) malam.

Gejolak itu bukan tanpa sebab. Di Desa Pasawahan dan Desa Padabeunghar, aktivitas pengambilan batu yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan mendadak tersendat. Dampaknya langsung menyentuh hal paling dasar yaitu isi perut keluarga para pekerja harian.

Menurut Haji Dirja, persoalan ini tidak bisa disederhanakan sebagai praktik galian C. “Di Pasawahan itu bukan galian C. Tidak ada alat berat. Hanya pengupasan tanah, tidak menggarap tebing yang membahayakan,” ujarnya.

Aktivitas itu, kata dia, sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Bupati Aang Hamid Suganda hingga Acep Purnama tanpa pernah menimbulkan konflik berarti.

Masalah yang sebenarnya, menurut Sudirja, berpusat pada satu lokasi di Desa Padabeunghar. Lahan tersebut berbatasan dengan tanah KRK, hasil tukar guling di masa lalu dan memiliki kontur tebing yang berisiko. “Saya tidak memungkiri, di Padabeunghar memang ada masalah. Dari dulu sudah saya ingatkan. Tapi ada yang memaksa,” katanya.

Ketika Gubernur Jabar KDM melakukan kunjungan ke wilayah Padabeunghar, lokasi itulah yang menjadi sorotan utama. Aktivitas pengambilan batu dihentikan. Namun, penghentian itu diiringi janji yang hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Menurut Haji Dirja, KDM menjanjikan dua hal yaitu pembebasan lahan oleh Pemerintah Provinsi serta solusi bagi tenaga kerja yang terdampak, baik berupa kompensasi maupun lapangan pekerjaan baru.

Baca Juga :  Jejak Dewa dan Pohon Langka di Sagarahiyang

“Sekarang warga bukan menuntut, tapi menunggu,” ujar Haji Dirja.

Penantian itu, kata dia, berlangsung dalam ketidakpastian. Hingga saat ini, belum ada kejelasan kapan pembebasan lahan dilakukan dan bagaimana nasib para pekerja yang kehilangan penghasilan. Bahkan, pekerjaan penanaman yang sempat berjalan pun belum dibarengi pembayaran upah buruh.

Ketiadaan kejelasan inilah yang kemudian memantik keresahan. Dari Padabeunghar, gelombang kegelisahan merembet ke Pasawahan, wilayah yang menurut warga justru tidak bermasalah. “Akhirnya semua kena dampaknya. Padahal kami kerja di lokasi yang aman,” kata Haji Dirja,.

Senin lalu, puluhan warga mendatangi kediaman Haji Dirja. Mereka menyampaikan keluh kesah, mulai dari tukang pecah batu hingga para sopir. Agus Setiawan, perwakilan sopir, mengatakan para pengemudi kini kehilangan ritme kerja. “Kami biasa narik setiap hari. Sekarang berhenti total,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu, rencana demonstrasi mencuat. Bahkan, warga menyebut kesiapan 100 hingga 150 truk untuk turun ke jalan. “Bukan mengancam, tapi ini ekspresi dari keputusasaan” kata Haji Dirja.

Related posts

Longsor Tutup Jalan Nasional Majalengka-Kuningan, Lalu Lintas Dialihkan

Cikal

Cahaya Muharram di Perum BKE, Dari Lomba Adzan hingga Pawai Lampion

Cikal

KONI Matangkan Strategi Menuju Porprov Jabar 2026

Ceng Pandi