KUNINGAN – Permainan Domino yang selama ini identik dengan aktivitas santai di tengah masyarakat, kini mulai bertransformasi menjadi cabang olahraga yang profesional dan kompetitif, bahkan akan digelar lomba tanggal 18 April.
Ketua Orado Kuningan, dr. Agah Nugraha, menjelaskan bahwa Orado merupakan federasi baru yang resmi terbentuk pada 7 Januari 2026 di Jakarta di bawah kepemimpinan Yongki Cahryal. Meski tergolong baru, struktur organisasi sudah terbentuk hingga tingkat provinsi dan kabupaten, termasuk di Kuningan yang telah dilantik pada 30 Maret 2026 di Bandung.
“Orado ini hadir untuk mengangkat Domino agar tidak sekedar permainan biasa, tetapi menjadi olahraga prestasi. Tagline kami yaitu memintarkan Indonesia dan Domino naik kelas,” ujarnya di sela rapat persiapan dengan kepanitiaan, Sabtu, (4/4/2026).
Menurutnya, Orado tengah berproses untuk menjadi cabang olahraga resmi di bawah KONI, dengan target ke depan mampu melahirkan atlet-atlet domino yang berprestasi dan bahkan berpenghasilan. Lanjutnya, berbagai kejuaraan pun mulai digelar secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten (Kejurcab), provinsi (Kejurprov), hingga nasional (Kejurnas).
Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggelar Kejuaraan Kabupaten (Kejurcab) pada 18 April 2026 di D’Jons Pool. Kegiatan tersebut menjadi ajang penjaringan bibit atlet yang profesional dari masyarakat.
“Saat ini masih terbuka untuk umum. Ke depan akan kita bentuk sistem klub di seluruh wilayah Kuningan, sehingga kompetisi lebih terstruktur,” jelasnya.
Antusiasme terhadap olahraga Domino juga dinilai cukup tinggi. Bahkan, meski belum menggelar Kejurcab, Kuningan telah mengirimkan perwakilan ke Kejurprov dengan hadiah juara yang mencapai lebih dari Rp10 juta.
Dalam Kejurcab, pihak panitia akan membagi kategori menjadi dua, yaitu junior usia 14–18 tahun dan senior, usia 18 tahun ke atas. Saat ini, kepengurusan Orado Kuningan sendiri telah diisi oleh sekitar 30 orang yang telah resmi ditetapkan melalui SK.
Sementara itu, dari sisi teknis pertandingan, Domino kini memiliki aturan baku yang menekankan profesionalisme dan sportivitas. Salah seorang tim teknis Kejurcab, Adriyan Suwari Permana, menjelaskan bahwa sejumlah aturan diterapkan untuk menjaga integritas pertandingan.
“Tidak boleh banting kartu, tidak boleh berkomunikasi selama permainan, dan ada aturan posisi duduk serta sistem poin yang jelas. Semua diawasi oleh wasit di setiap meja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, aturan tersebut bertujuan mengubah stigma Domino dari sekedar permainan santai menjadi olahraga yang menjunjung tinggi etika dan disiplin.
Kegiatan tersebut juga akan disisipkan dengan deklarasi resmi kepengurusan cabang Orado Kabupaten Kuningan sebagai bentuk komitmen bersama dalam memajukan olahraga Domino di daerah. Hal itu disampaikan, Toni Tomas, selaku koordinator deklarasi yang didampingi, Rangga Pradiata, selaku Ketua Harian.
Pihaknya mengungkapkan, momen tersebut menjadi tonggak awal kebangkitan Domino sebagai cabang olahraga yang terorganisir dan berprestasi. Menurutnya, deklarasi tersebut bukan sekedar seremoni, melainkan langkah awal untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memperluas jejaring komunitas Domino di Kabupaten Kuningan.
”Sudah dijelaskan bahwa kami itu sudah dilantik. Deklarasi itu tidak lagi mengarah ke pengesahan, tetapi lebih ke pengenalan komposisi pengurus pengurus cabang Orado Kabupaten Kuningan, kami akan melakukan secara simbolis,” ungkapnya.
