KUNINGAN – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Al-Ihya Kuningan melontarkan kritik keras terhadap Pemerintah Kabupaten Kuningan terkait kondisi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciniru.
Ketua BEM Unisa, Muhammad Sayfulloh Rohman, menyebut Kabupaten Kuningan saat ini tidak sedang baik-baik saja. Di balik geliat pembangunan dan citra sebagai daerah wisata, Ia menilai terdapat persoalan serius yang diabaikan, khususnya dalam tata kelola lingkungan.
“TPSA Ciniru bukan lagi sekadar tempat pembuangan sampah, melainkan telah menjelma menjadi monumen nyata kegagalan tata kelola lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan yang dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya, Jum’at, (17/4/2026) silam.
Menurutnya, status overload seharusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum terlihat langkah strategis yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Pihaknya juga menyinggung rencana penerapan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang kerap disampaikan sebagai solusi. Mereka menilai wacana tersebut belum terealisasi, sementara penanganan di lapangan masih menggunakan metode konvensional berupa penumpukan dan penimbunan sampah.
“Rakyat hanya disuguhi pemandangan sampah yang ditumpuk berundak dan ditutup tanah. Ini bukan solusi, melainkan penundaan bencana,” tegasnya.
Selain itu, ia menilai adanya ketimpangan dalam keberpihakan anggaran daerah. Epul, panggilan akrabnya, menyebut pemerintah terlihat lebih fokus pada proyek-proyek yang bersifat seremonial, sementara persoalan mendasar seperti pengelolaan sampah justru terabaikan.
Sebagai bentuk kepedulian, BEM UNISA mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret, di antaranya menyusun roadmap penanganan sampah yang transparan, mengadopsi teknologi pengelolaan modern, serta melibatkan akademisi dan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.
Mereka juga mengingatkan bahwa jika tidak ada tindakan nyata dalam waktu dekat, gelombang kekecewaan masyarakat berpotensi berubah menjadi aksi protes.
“Jika tidak ada langkah konkret, jangan salahkan jika kemuakan ini meledak. Hentikan retorika, eksekusi solusi,” tutupnya.
