Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Politik

Hilirisasi Pangan hingga Dapur MBG, Mesra Politik Ardiyan–Tuti di Lapangan

KUNINGAN — Kunjungan kerja Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rokhmat Ardiyan, ke Kabupaten Kuningan, kemarin, bukan hanya agenda seremonial. Dalam rangkaian peninjauan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), gudang Bulog, hingga dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terlihat satu benang merah yang mencolok, kekompakan politik antara Rokhmat Ardiyan dan Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani.

Keduanya hampir tak terpisahkan di setiap titik kunjungan. Di Desa Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus, misalnya, Rokhmat dan Tuti berjalan berdampingan meninjau bangunan KDMP yang disebut-sebut akan menjadi simpul baru hilirisasi pangan dan energi desa. Sesekali mereka berdiskusi singkat, lalu berhenti untuk menyimak penjelasan teknis dari perangkat desa atau dinas terkait.

Rokhmat Ardiyan menyebut KDMP sebagai perpanjangan tangan kebijakan nasional yang didorong Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya koperasi desa sebagai penghubung antara produksi dan distribusi, sekaligus sebagai instrumen memangkas rantai pasok yang selama ini membebani petani.

“Ini bukan sekadar koperasi. Ini pusat distribusi, pusat pengolahan, bahkan bisa masuk ke energi terbarukan seperti bioetanol dari sekam,” kata Ardiyan.

Di titik ini, Tuti tak hanya mendampingi. Ia beberapa kali menimpali, terutama ketika pembahasan menyentuh dampak langsung ke petani. Menurut dia, kehadiran koperasi di desa akan memangkas ketergantungan petani pada tengkulak dan memperpendek jarak ke pasar.

“Komoditas seperti kapulaga, pala, cengkeh itu selama ini rantainya panjang. Dengan koperasi, petani tidak lagi kesulitan menjual hasil panen,” ujarnya.

Kehadiran keduanya di lokasi pembangunan KDMP juga diikuti Komandan Kodim 0615/Kuningan, Letkol Arh. Hafda Prima Agung. Ia memastikan keterlibatan TNI dalam pengawasan pembangunan infrastruktur koperasi. Targetnya ambisius, 250 titik koperasi berdiri pada 2026, dengan sebagian rampung sebelum akhir Juli.

Baca Juga :  HRA Desak PGN Percepat Jaringan Gas Sambut Nataru Bali

Dari Bandorasa Wetan, rombongan bergeser ke gudang Bulog di kawasan yang sama. Di sini, narasi berubah dari pembangunan ke ketahanan. Namun pola interaksi Ardiyan–Tuti tetap serupa saling menguatkan.

Data yang dipaparkan menunjukkan stok beras di gudang mencapai 7.171 ton, sedikit melampaui kapasitas tampung 7.000 ton. Secara keseluruhan, Bulog menguasai hampir 290 ribu ton cadangan beras dari hasil penyerapan gabah petani.

Ardiyan menyebut angka itu sebagai bantalan penting di tengah ketidakpastian global. Ia mengaitkannya dengan geopolitik dan ancaman cuaca ekstrem yang bisa mengganggu produksi pangan.
“Kalau cadangan kuat, kita tidak mudah goyah,” ujarnya.