KUNINGAN – Warga Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, mengeluh pemadaman listrik yang terlalu sering. Kondisi itu dinilai sangat mengganggu aktivitas bahkan merugikan masyarakat setempat.
Keluhan tersebut disampaikan Andriansyah, salah seorang warga setempat. Menurutnya, mati lampu hampir terjadi setiap hari, bahkan dalam satu bulan bisa terjadi berkali-kali. Yang membuatnya hetan, pemadaman listrik kerap terjadi meski tidak disertai hujan atau angin kencang. Dalam sebulan, ia menyebut, gangguan listrik bisa mencapai hingga enam kali.
“Baru saja menyala, tidak lama mati lagi. Kadang dalam sehari bisa beberapa kali. Kalau hujan turun, hampir dipastikan listrik padam,” ujarnya, Rabu, (13/5/2026).
Ia menuturkan, seringnya pemadaman listrik tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada kerusakan alat elektronik milik warga. Selain itu, gangguan listrik juga menyebabkan sinyal komunikasi terganggu karena sebagian masyarakat mengandalkan jaringan wifi untuk berkomunikasi dan bekerja.
“Kalau listrik mati, semuanya jadi susah. Komunikasi terhambat karena sinyal dan wifi ikut terganggu. Belum lagi risiko alat elektronik rusak akibat listrik yang sering padam,” katanya.
Ia berharap pihak PLN dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Mereka meminta adanya pembenahan jalur listrik agar tidak mudah terganggu oleh faktor alam maupun hewan liar.
Andriansyah mengaku dirinya sudah beberapa kali berkoordinasi dengan pihak PLN. Dari penjelasan yang diterimanya, jelas dia, gangguan listrik sering disebabkan oleh pohon tumbang maupun hewan lutung yang mengenai kabel jaringan listrik.
“Kami meminta PLN segera membenahi jalur listrik supaya tidak mudah terganggu pohon atau hewan liar. Kami yang tinggal di pegunungan sangat membutuhkan listrik yang stabil,” ungkapnya.
Selain mengganggu kenyamanan, warga juga mengaku khawatir kondisi gelap saat malam hari dapat memicu masuknya hewan buas ke area permukiman penduduk.
Sementara itu, pihak PLN Kuningan menyatakan gangguan listrik di wilayah Desa Pinara dan sekitarnya lebih banyak dipengaruhi faktor geografis serta gangguan alam yang kerap terjadi di jalur distribusi listrik pegunungan.
Petugas bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) PLN Kuningan, Nasuha, menjelaskan, pemadaman listrik pada dasarnya terbagi menjadi dua kategori, yakni pemeliharaan terencana dan gangguan. Untuk pemeliharaan, kata dia, PLN biasanya selalu memberikan informasi lebih dahulu kepada masyarakat melalui kanal informasi maupun grup komunikasi warga.
“Kalau di luar jadwal pemeliharaan berarti itu gangguan. Penyebabnya banyak, terutama karena kondisi geografis Kuningan yang didominasi pegunungan dan pepohonan besar, khususnya di wilayah Pinara. Jalur listrik di sana banyak melewati area hutan dan perbukitan,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh Cilalpedia.id, Rabu, (13/5/2026).
Ia mengatakan, saat hujan turun disertai angin, pohon tumbang kerap mengenai jaringan listrik sehingga sistem proteksi otomatis bekerja dengan memutus aliran listrik demi keselamatan masyarakat.
“Kalau pohon menyentuh kabel dan listrik tidak dipadamkan, itu sangat berbahaya karena bisa menimbulkan sengatan listrik. Jadi sistem proteksi otomatis memutus aliran untuk pengamanan,” katanya.
Selain pohon tumbang, gangguan juga kerap dipicu hewan liar seperti lutung atau monyet yang mengenai jaringan listrik. Untuk meminimalisasi gangguan, pihaknya mengaku rutin melakukan pemeliharaan hampir setiap hari berupa pemangkasan pohon hingga pemasangan alat penghalau binatang di sejumlah titik rawan.
“Kami rutin melakukan pangkas pohon dan pemasangan penangkal binatang berupa ijuk di titik-titik tertentu. Bahkan kalau volumenya besar, personel dari berbagai wilayah dikerahkan untuk penanganan,” ucapnya.
Meski demikian, Nasuha mengakui upaya pembenahan jaringan listrik di wilayah pegunungan memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi investasi dan regulasi lingkungan.
Menurutnya, penggunaan kabel bawah tanah atau jaringan khusus tahan gangguan memang dapat menjadi solusi jangka panjang, namun membutuhkan biaya sangat besar dan sulit direalisasikan untuk wilayah dengan dominasi pelanggan rumah tangga.
“Kalau mau benar-benar aman memang idealnya kabel bawah tanah, tapi investasinya bisa tiga sampai lima kali lipat lebih besar. Sementara kondisi di sana mayoritas rumah tangga sehingga pengajuan investasi besar cukup sulit,” jelasnya.
Ia juga mengaku pernah mengajukan penebangan pohon di sekitar jalur jaringan listrik kepada pihak terkait, namun belum mendapatkan izin karena pertimbangan lingkungan hidup.
“Kami pernah mengusulkan penebangan pohon yang dekat jaringan demi keamanan, tetapi tidak diizinkan. Akhirnya hanya diperbolehkan memangkas pohon secara berkala,” katanya.
Meski begitu, Nasuha memastikan akan terus melakukan langkah preventif agar gangguan listrik di wilayah pegunungan, termasuk Desa Pinara dan Gunungmanik, dapat diminimalisasi.
“Pemeliharaan tetap kami lakukan secara rutin. Harapan kami tentu masyarakat juga bisa memahami tantangan geografis yang ada. Namun kami tetap berupaya agar pelayanan listrik bisa lebih stabil,” tutupnya.
Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi
