
KUNINGAN – Himpunan Mahasiswa Islam menggelar nonton bareng “Pesta Babi” dan diskusi di Sekretariat HMI Kuningan, Sabtu (16/5/2026) malam. Di sela diskusi film, aktivis HMI juga nonton bareng luapan air yang viral dan terjadi di sekitar jalan menuju Palutungan.
Karena luapan air tersebut nyambung dengan salah satu scan film, HMI juga menyinggung persoalan lingkungan yang dinilai semakin memprihatinkan di Kabupaten Kuningan.
HMI menilai pemerintah daerah jangan menutup mata. Tetapi perlu lebih serius menjaga keseimbangan lingkungan di tengah maraknya alih fungsi lahan, persoalan sampah, hingga ancaman kerusakan kawasan resapan air.
Ketua pelaksana, M. Al Ghifari Kusumawardany menyebut, film Pesta Babi tidak hanya dipahami sebagai tontonan semata, melainkan menjadi ruang refleksi terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar masyarakat.
”Kami ingin mengajak publik lebih peduli terhadap kondisi lingkungan. Jangan sampai pembangunan berjalan, tetapi kelestarian alam justru diabaikan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan Pemerintah Kabupaten Kuningan agar konsisten menjaga identitas Kuningan sebagai daerah konservasi. Menurutnya, berbagai kebijakan pembangunan harus tetap mempertimbangkan dampak ekologis dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Kuningan memiliki bagian Gunung Ciremai sekitar kurang lebih 60 persen. Jangan sampai pembebasan lahan dan kerusakan alam hanya untuk kepentingan para konglomerat, sementara masyarakat kecil justru menerima dampak bencana dan krisis lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Kuningan, Muhammad Naufal Harits, menyampaikan bahwa Kuningan dikenal sebagai Kabupaten konservasi harus dijaga benar-benar melalui kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam, bukan sekedar slogan.
Ia mengingatkan bahwa Pemkab jangan berdalih pada aspek Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga kelestarian hutan dan lingkungan justru dikorbankan demi kepentingan investasi maupun pembangunan yang tidak berkelanjutan.
”Jangan sampai status konservasi hanya menjadi simbol. Pemerintah harus tegas menjaga kawasan hutan dan resapan air karena itu menyangkut masa depan masyarakat Kuningan,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari ancaman longsor, kebakaran, banjir, krisis air bersih, hingga menurunnya kualitas hidup warga di wilayah sekitar kawasan hutan.
”Tadi kami saksikan, jalan menuju Palutungan sempat banjir. Ini menjadi peringatan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dianggap sepele dan harus segera ditangani secara serius,” tutupnya.




