KUNINGAN – Dosen Fakultas Ilmu Keislaman UNISA Kuningan, Nur Rohmatillah, berhasil mengembangkan inovasi model pembelajaran Children Learning in Science berbasis etnosains (CLIS-Etnos).

Model tersebut dirancang khusus untuk meningkatkan capaian pembelajaran, pemahaman konsep, serta keterampilan proses sains bagi siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam belajar sains. 

Inovasi tersebut merupakan hasil penelitian pada program Doktor Pendidikan Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Secara lengkap, disertasi tersebut berjudul pengembangan model pembelajaran children learning in science berbasis etnosains (CLIS-Etnos) untuk meningkatkan capaian pembelajaran siswa berkesulitan belajar sains di Sekolah Dasar.

Penelitian tersebut diuji dalam Sidang Promosi Doktor pada Kamis, 26 Juli 2026 di Gedung Al-Amin Lantai 3 kampus setempat. Penelitian dilaksanakan di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Serafin Wisni Septiarti, dan Ko-Promotor Prof. Dr. Hermanto.

Penelitian dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar mengalami kesulitan dalam memahami konsep IPA yang abstrak, menghubungkan pengetahuan awal dengan konsep ilmiah, serta melakukan kegiatan penyelidikan secara mandiri.

Hasil studi pendahuluan terhadap 75 siswa kelas IV pada tiga sekolah dasar di Kabupaten Kuningan itu menunjukkan sekitar 72 persen siswa memiliki kecenderungan mengalami kesulitan belajar sains. 

“Model CLIS-Etnos dirancang agar siswa tidak hanya menghafal konsep IPA, tetapi membangun pemahamannya melalui fenomena budaya lokal yang dekat dengan kehidupan mereka. Pada saat yang sama, guru memberikan bantuan secara bertahap (scaffolding) sesuai kebutuhan siswa,” ujar Nur Rohmatillah. 

Menurutnya, model CLIS-Etnos mengintegrasikan tiga unsur utama yaitu kerangka perubahan konseptual CLIS, etnosains sebagai konteks pembelajaran, dan scaffolding sebagai dukungan bertahap. Konteks etnosains yang diangkat bersumber dari kearifan budaya lokal Kabupaten Kuningan, antara lain pembuatan tape ketan, pengolahan gula aren, dan pengolahan susu.

“Praktik budaya ini saya hubungkan langsung dengan konsep-konsep IPA, seperti perubahan wujud zat, kalor, fermentasi, dan perubahan sifat bahan,” tuturnya.

Kemudian, dosen PGMI tersebut menyebutkan bahwa model CLIS-Etnos memiliki lima tahapan pembelajaran yaitu orientasi fenomena etnosains, pemunculan gagasan awal siswa, restrukturisasi gagasan melalui penyelidikan ilmiah, aplikasi konsep dalam konteks budaya lokal, dan refleksi dan penguatan konsep.

“Pada setiap tahap, guru diharuskan memberikan scaffolding berupa pertanyaan penuntun, penggunaan benda konkret, visualisasi, penyederhanaan langkah kerja, diskusi teman sebaya, dan umpan balik,” tuturnya. 

Ia menegaskan, etnosains dalam model tersebut bukan sekadar contoh tambahan. Budaya lokal digunakan sebagai titik awal pembelajaran, objek penyelidikan, sekaligus konteks penerapan konsep. Melalui pendekatan tersebut, konsep yang semula abstrak menjadi lebih konkret dan bermakna bagi siswa.

Pengembangan model itu juga menghasilkan sejumlah produk pendukung seperti buku model, buku panduan guru, modul ajar, LKPD, media pembelajaran, serta instrumen identifikasi dan penilaian.

“Mudah-mudahan model CLIS-Etnos inu dapat menjadi alternatif pembelajaran IPA yang kontekstual, inklusif, dan adaptif bagi guru di berbagai daerah,” pungkasnya.