CIREBON — KRI Dewaruci bukan sekadar kapal layar latih biasa milik TNI Angkatan Laut. Kapal legendaris buatan Jerman Barat ini telah lama berdiri sebagai duta bangsa yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih serta membawa nama Indonesia dalam berbagai pelayaran internasional lintas benua.

Kapal bertipe barquentine tersebut dibangun di galangan kapal terkemuka H.C. Stülcken & Sohn, Hamburg, Jerman Barat. Sempat mengalami penundaan pembangunan akibat gejolak Perang Dunia II, KRI Dewaruci akhirnya resmi diluncurkan pada Januari 1953 dan langsung memperkuat jajaran Angkatan Laut Republik Indonesia di tahun yang sama.

Sejak saat itu, kapal yang ditopang tiga tiang utama dengan puluhan bentangan layar megah ini menjadi kawah candradimuka dalam pendidikan pelayaran militer Indonesia. KRI Dewaruci difungsikan sebagai kawah gemblengan utama taruna dan taruni Akademi Angkatan Laut (AAL), khususnya dalam menguasai keahlian navigasi astronomi serta ketangkasan bahari tradisional.

Jejak Pelayaran Keliling Dunia dan Misi Diplomasi Budaya

Catatan emas KRI Dewaruci melampaui batas-batas ruang pendidikan militer. Kapal ini mengukir sejarah besar lewat dua kali misi pelayaran muhibah keliling dunia, yakni pada tahun 1964 dan 2012. Kedua pelayaran kolosal tersebut menjadi ajang pengenalan identitas Indonesia kepada masyarakat internasional.

Dalam setiap persinggahan di festival kapal layar internasional (tall ships race), KRI Dewaruci secara konsisten mengemban misi diplomasi budaya. Atraksi seni tradisional dan kekayaan budaya Nusantara senantiasa ditampilkan para taruna untuk memperkenalkan kehangatan serta keagungan Indonesia di mata dunia.

Secara etimologi dan filosofi, nama Dewaruci diserap dari figur pewayangan Jawa yang kaya makna spiritual melambangkan nilai kejujuran, keberanian, kesetiaan, serta pencarian hakikat kehidupan.

Lewat rekam jejaknya yang panjang, KRI Dewaruci tak sekadar menjadi benteng saksi perjalanan TNI Angkatan Laut, melainkan representasi utuh dari sinergi pendidikan vokasi bahari, tradisi maritim Nusantara, dan diplomasi kebudayaan Indonesia di kancah global. ***