Latar belakangnya sebagai mahasiswa sastra menjadi modal penting dalam meramu narasi wisata yang tidak sekadar menjual panorama, tetapi juga nilai.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada kampus dan lingkungan akademiknya. Dukungan dari dosen, rekan mahasiswa, serta keluarga menjadi fondasi yang membuatnya mampu bertahan di tengah tekanan kompetisi. “Prestasi ini bukan milik saya sendiri. Ini hasil kerja kolektif,” katanya.
Menariknya, Adrian bukan tipikal duta pariwisata yang hanya mengandalkan penampilan. Ia aktif turun langsung ke lapangan, berdialog dengan pengelola wisata, hingga menyusun konsep promosi berbasis komunitas. Pendekatan ini membuat program advokasinya dinilai memiliki dampak nyata.
Bagi generasi muda Kuningan, capaian Adrian menjadi semacam penanda bahwa jalur akademik, kreativitas, dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan. Dari ruang kelas PBSI Uniku hingga panggung pariwisata Jawa Barat, ia menunjukkan bahwa prestasi lahir dari konsistensi, kerja senyap, dan keberanian membawa identitas daerah ke ruang yang lebih luas.
Ke depan, Adrian berharap keterlibatannya di dunia pariwisata tak berhenti pada kompetisi. Ia ingin terus menjadi jembatan antara generasi muda, budaya lokal, dan masa depan pariwisata Kuningan yang berkelanjutan. (Ali)
