KUNINGAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai pilar peningkatan kualitas generasi muda kini diterpa isu tak sedap di Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan. Bukan soal rasa, melainkan adanya indikasi “selisih angka” yang memicu tudingan miring terkait praktik mark-up dalam pelaksanaannya.
Pemerhati kebijakan publik Kuningan, Atang, secara vokal membedah ketimpangan tajam antara alokasi anggaran pemerintah dengan fakta menu yang sampai ke tangan siswa. Ia mensinyalir adanya lubang besar dalam transparansi anggaran yang berpotensi merugikan negara hingga jutaan rupiah setiap harinya.
Sorotan tajam tertuju pada komposisi menu tingkat MTs yang terdiri dari jeruk, susu, keju, dan singkong karamel. Berdasarkan riset harga pasar yang dilakukan Atang, nilai bahan baku tersebut dinilai jauh di bawah standar anggaran yang ditetapkan sebesar Rp10.000 per porsi.
“Jika dibedah harga pasar, satu buah jeruk diperkirakan hanya sekitar Rp1.750, susu Rp3.000, keju Rp1.000, dan singkong karamel Rp1.000, sehingga total riilnya hanya menyentuh angka Rp6.750,” ungkap Atang, Kamis (12/3/2026).

Padahal, lanjut Atang, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia disebut telah mendapatkan dana operasional terpisah sebesar Rp5.000 per porsi untuk biaya dapur dan relawan. Kondisi ini memicu pertanyaan besar, sebab dengan adanya dana operasional tersebut, SPPG seharusnya tidak memiliki celah untuk kembali memangkas anggaran bahan makanan demi mencari keuntungan tambahan.
