KUNINGAN – Rencana pembangunan lift di Gedung Pemerintah Kabupaten Kuningan di kawasan Kuningan Islamic Center (KIC) dengan anggaran sekitar Rp1,2 miliar kembali mendapat sorotan.

‎Setelah sebelumnya dipertanyakan oleh kalangan guru honorer terkait urgensi pembangunan fasilitas tersebut, kini kritik datang dari Ketua BEM Universitas Islam Al-Ihya Kuningan, Muhammad Sayffulloh Rohman.

‎Ia menegaskan, sorotan terhadap pembangunan lift bukan berarti pihaknya menolak fasilitas yang dapat meningkatkan aksesibilitas pelayanan publik. Namun, kata dia, pemerintah dinilai tetap perlu menjelaskan secara terbuka urgensi, kebutuhan teknis, besaran anggaran, serta proses pengadaan pembangunan tersebut.

‎“Ini bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan lift, melainkan upaya memastikan bahwa setiap rupiah APBD digunakan secara efektif, efisien, transparan, dan memberikan manfaat yang nyata,” ujarnya, Kamis, (13/8/2026).

‎Menurutnya, apabila lift tersebut memang diperuntukkan untuk mempermudah masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan warga dengan keterbatasan mobilitas, maka pembangunan tersebut patut diapresiasi. Pelayanan publik, kata dia, memang harus inklusif dan dapat diakses seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

‎Namun, pada saat yang sama, pemerintah tidak boleh mengabaikan persoalan lain yang juga menjadi kebutuhan mendesak masyarakat Kuningan.

‎“Penyandang disabilitas tidak boleh menjadi warga negara kelas dua dalam memperoleh pelayanan pemerintah. Tetapi di sisi lain, pembangunan juga harus melihat skala prioritas dan kemampuan fiskal daerah,” katanya.

‎Epul menilai masih banyak pekerjaan rumah pemerintah daerah yang membutuhkan perhatian, mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan ekonomi hingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

‎Oleh karena itu, menurutnya, persoalan pembangunan lift tidak seharusnya hanya dilihat dari ada atau tidaknya fasilitas tersebut, tetapi juga dari konteks prioritas penggunaan anggaran daerah.

‎Terlebih, sebelumnya seorang guru honorer telah mempertanyakan urgensi pembangunan lift di tengah masih adanya berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan tenaga pendidikan.

‎Sorotan tersebut, kata dia, semestinya menjadi bahan evaluasi sekaligus ruang bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan kepada publik.

‎Ia juga mengingatkan, jika pemerintah serius membangun pelayanan publik yang inklusif, pembangunan lift seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.

‎Aksesibilitas harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari akses masuk gedung, jalur pengguna kursi roda, toilet ramah disabilitas, informasi pelayanan hingga kesiapan aparatur dalam memberikan pelayanan kepada kelompok berkebutuhan khusus.

‎“Lift bukan sekedar fasilitas di dalam gedung, tetapi harus menjadi bagian dari komitmen pemerintah menghadirkan pelayanan yang setara bagi seluruh warga,” ujarnya.

‎Meski demikian, pihaknya menegaskan pihaknya tidak dalam posisi menolak pembangunan lift tersebut. Ia justru berharap jika pembangunan tetap dilaksanakan, fasilitas tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak menjadi sekadar proyek pembangunan gedung pemerintahan.

‎Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan daerah bukan hanya bertambahnya fasilitas fisik milik pemerintah, tetapi juga meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

‎“Kemiskinan harus terus ditekan, lapangan pekerjaan diperluas, pendidikan dan kesehatan diperkuat, serta kebutuhan dasar masyarakat dipenuhi,” katanya.

‎Ia pun menyampaikan pesan yang menjadi inti sorotannya terhadap rencana pembangunan tersebut. “Lift boleh naik, pelayanan publik harus naik, tetapi yang paling penting adalah kesejahteraan masyarakat Kuningan juga harus ikut naik,” tegasnya.

‎Baginya, pembangunan seharusnya tidak berhenti pada bagaimana masyarakat bisa mengakses lantai tiga gedung pemerintahan. Menurutnya, pemerintah harus memastikan seluruh masyarakat Kuningan memiliki kesempatan untuk naik kelas dalam kehidupannya.

‎“Tujuan pembangunan bukan sekedar membuat masyarakat mampu naik ke lantai tiga, tetapi bagaimana seluruh masyarakat Kuningan mampu naik kelas dalam kehidupannya,” tutupnya.