
KUNINGAN – Mahasiswa Universitas Kuningan, Adia Prima Nugraha, menilai pernyataan Bupati Kuningan tentang TdL yang berperan mengenalkan wisata ke kancah internasional hanya lip service.
Menurut Adia, sampai saat ini Kuningan belum memiliki icon wisata yang patut dikenalkan lebih luas ke mancanegara. Hal itu disebabkan karena tata kelola pariwisata Kuningan monoton alias minim inovasi dan kreativitas.
“Sebetulnya pernyataan Bupati keliru dan harus disesuaikan dulu dengan kondisi Kuningan, wisata yang dikelola oleh daerah saya rasa minim inovasi dan kreatifitas,” ujarnya, Jum’at (12/9).
Tidak hanya itu, Adia juga menyinggung soal insfratruktur jalan yang disebut-sebut sedang dalam proses perbaikan, tapi sebatas untuk kepentingan acara seremonial semata. Menurutnya, perbaikan jalan seharusnya berlaku menyeluruh ke setiap pelosok desa.
“Kita lihat di daerah pelosok yang tidak tersentuh oleh ruas jalan untuk TdL apakah diperbaiki? Masih banyak jalan rusak yang mirip sungai kering. Kami harap Bupati jangan cuma omon-omon saja,” tambahnya.
Lebih lanjut, Adia mendorong, untuk mengenalkan Kuningan ke dunia global, pemerintah diminta untuk mengintensifkan panggung-panggung budaya dan tradisi Kuningan dalam berbagai platform digital atau konvensional. Hal itu perlu didesain ke dalam program unggulan pemerintah, supaya potensi Kuningan banyak dikenal pihak lain.
“Saya rasa setiap desa mempunyai tradisi dan budaya banyak yang belum terekspos. Kami harap di sisi itu yang harus ditonjolkan, difasilitasi dan diberikan ruang untuk tampil,” tambahnya.
Aktivis mahasiswa itu juga menilai, pemerintah daerah seharusnya lebih fokus membenahi persoalan mendasar ketimbang menggelar agenda seremonial berskala besar.
Menurutnya, pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat seperti akses jalan desa, pemberdayaan ekonomi lokal, hingga dukungan terhadap UMKM justru akan lebih berdampak nyata dibanding hanya sekadar mengandalkan event tahunan.
Selain itu, menurutnya, Pemkab Kuningan tidak hanya terpaku pada gagasan membranding daerah melalui kegiatan olahraga semata. Ia menegaskan, penguatan sektor wisata harus berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat desa agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
“Jika potensi lokal diberdayakan dengan serius, saya yakin Kuningan bisa dikenal bukan hanya karena Tour de Linggarjati, tapi juga karena keunikan budaya dan kearifan lokalnya,” pungkasnya. (Icu)





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.