Cikalpedia
”site’s ”site’s
Pemerintahan

Datangi Lokasi Galian Batu di Cileleuy, Bupati Kuningan Janjikan Solusi Upah Warga

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar duduk bersama warga yang beraktifias melakukan galian dilokasi galian batu Cileleuy.

Di luar urusan kebijakan, kehidupan masyarakat Desa Cileleuy berjalan dengan segala keterbatasan dan risiko. Desa ini sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas kerja fisik yang tinggi. Selain pertanian, sebagian warga menggantungkan hidup dari pekerjaan berbasis lahan, termasuk galian batu dan proyek bangunan.

Dalam perbincangan warga, tergambar bagaimana pekerjaan di sektor ini menuntut disiplin dan kehati-hatian. Risiko kecelakaan menjadi bagian dari keseharian yang tak terpisahkan.

“Kalau kerja di lapangan mah harus disiplin. Pakai alat apa pun, palu atau alat lain, yang penting tahu risikonya,” ujar Uus (47), warga setempat yang telah puluhan tahun bekerja di sektor galian batu.

Aktivitas ini bukan perkara baru bagi warga Cileleuy. Sejumlah lokasi galian telah dikelola sejak puluhan tahun lalu, bahkan lintas generasi. Ada keluarga yang telah menggantungkan hidup dari lahan yang sama selama 40 hingga 50 tahun.

“Itu sudah generasi ketiga. Dari orang tua, turun ke anak,” ujar seorang warga lainnya.

Ketergantungan ekonomi terhadap galian batu membuat penghentian aktivitas terasa begitu berat. Namun di tengah kerasnya pekerjaan lapangan, warga tetap menaruh harapan besar pada pendidikan anak-anak mereka. Banyak orang tua berusaha keras menyekolahkan anak hingga jenjang menengah, bahkan perguruan tinggi, agar memiliki masa depan yang lebih baik.

“Alhamdulillah, meskipun orang tuanya kerja di lapangan, anaknya bisa sekolah. Ada yang sampai kuliah,” kata Uus dengan nada bangga.

Meski begitu, ketidakpastian selalu membayangi. Aktivitas galian yang bergantung pada izin dan kebijakan membuat warga berada dalam posisi rentan. Saat proyek berhenti atau aktivitas dibatasi, mereka harus segera mencari alternatif pekerjaan lain.

“Kalau lagi tidak ada proyek, ya jadi kuli bangunan, kerja serabutan. Yang penting dapur tetap ngebul,” ujar warga lainnya.

Baca Juga :  Isi Podcast KPU, Ceng Pandi: Keharmonisan Kunci Pembangunan

Pembicaraan warga juga menyinggung persoalan lahan dan perizinan. Disebutkan, ada area kerja yang luasnya mencapai puluhan hektare, namun tidak semua warga memahami secara jelas status izin dan batas wilayahnya. Kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan, terutama ketika muncul penertiban atau perubahan kebijakan secara tiba-tiba.

Meski menyadari bahwa penghentian galian tidak bisa dihindari, warga berharap pemerintah mengambil langkah yang adil dan manusiawi. Mereka meminta agar kebijakan lingkungan tidak mengorbankan kehidupan masyarakat kecil.

“Aturan penting, lingkungan juga penting. Tapi masyarakat kecil jangan sampai dikorbankan,” ujar seorang warga.

Bagi masyarakat Desa Cileleuy, penghentian galian batu bukan hanya soal aktivitas ekonomi, melainkan tentang masa depan keluarga dan generasi berikutnya. Kini, mereka menunggu realisasi janji pendataan dan solusi upah, sembari berharap keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup warga benar-benar terwujud. (ali)

Related posts

Jelang Lebaran, Stok LPG dan BBM di Kuningan Dipastikan Aman

Cikal

Jejak Dewa dan Pohon Langka di Sagarahiyang

Cikal

Lapuk dan Membahayakan, 5 Gapura Kuningan Direnov

Ceng Pandi