KUNINGAN – Di tengah sejuknya udara Sangkanurip, sebuah orkestra konsolidasi besar-besaran tengah dimainkan oleh sivitas akademika Universitas Kuningan (Uniku). Pada Selasa, (7/4/2026), Cakrawala Ballroom Grage Sangkan Hotel dan Spa menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemangku kebijakan kampus dalam Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026. Pertemuan ini bukan sebatas seremoni tahunan, melainkan sebuah proklamasi ambisi membawa Uniku meraih akreditasi “Unggul”.
Rektor Uniku, Dr. Anna Fitri Hindriana, M.Si., membuka forum dengan nada yang tak menyisakan ruang bagi keraguan. Baginya, akreditasi Unggul adalah harga mati bagi reputasi institusi. “Ini adalah momen konsolidasi seluruh kekuatan kelembagaan kita untuk menjawab satu pertanyaan besar: Sudahkah kita siap membawa Universitas Kuningan ke level berikutnya?” cetusnya di hadapan para peserta Raker.
Anna, yang mencatatkan sejarah sebagai rektor perempuan pertama di kampus tersebut, menggarisbawahi tiga alasan fundamental mengapa predikat Unggul menjadi target non-negosiasi. Pertama adalah aspek mutu. Menurutnya, predikat tersebut merupakan pengakuan publik atas tata kelola, kualitas riset, serta daya saing lulusan di level internasional.
Kedua, akreditasi adalah instrumen kepercayaan. Di tengah ketatnya kompetisi perguruan tinggi, status akreditasi menjadi variabel utama bagi calon mahasiswa, dunia industri, hingga mitra internasional dalam menjalin kolaborasi strategis. Adapun alasan ketiga adalah kewajiban moral. “Kita bertanggung jawab kepada mahasiswa, orang tua, dan masyarakat Kuningan yang menaruh harapan besar pada institusi ini,” tegas Anna.
Untuk mencapai target tersebut, Uniku mengandalkan Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai kompas. Anna memaparkan bahwa IKU bukan hanya deretan angka mati, melainkan instrumen transformasi kerja. Pimpinan unit kini dituntut untuk tidak hanya mengejar IKU Wajib, tetapi juga IKU Pilihan, khususnya pada poin keenam yakni publikasi internasional bereputasi.
