
KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) berencana menggelar konser pelajar. Hal itu dilakukan untuk memperkuat identitas daerah sebagai Kabupaten Angklung.
Rencana tersebut akan dilaksanakan dalam rangka mengisi momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Momen tersebut menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali budaya angklung di kalangan pelajar.
Sebelum konser angklung, salah satu upaya yang sudah dilakukan yaitu lomba foto di Tugu Angklung yang melibatkan pelajar tingkat SMP hingga SMA sederajat. Dr. Funny Amalia Sari selaku Kepala Bidang Kebudayaan menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari sosialisasi awal untuk mengingatkan generasi muda terhadap identitas budaya daerah yang telah lama dicanangkan.
“Ini bukan sekedar lomba, tapi langkah awal untuk kembali menanamkan kesadaran bahwa Kuningan adalah Kabupaten Angklung,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, (27/4/2026).
Adapun jumlah sekolah yang mengikuti lomba foto Tugu Angklung sebanyak 72 sekolah, terdiri atas 47 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 25 Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Secara teknis, lanjutnya, foto dipublikasikan melalui akun resmi masing-masing sekolah, kemudian diunggah kembali melalui formulir yang telah disediakan di media sosial.
“Penilaian dilihat dari seberapa banyak like, coment dan share,” ucapnya.
Tak berhenti di situ, pihaknya juga tengah menyiapkan langkah lanjutan yang lebih konkret. Setelah melakukan pendataan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya di sekolah, muncul gagasan untuk menggelar pagelaran angklung hingga Konser Angklung Pelajar.
Menurutnya, Program tersebut mampu mendorong siswa lebih aktif berlatih dan tidak sekedar menjadikan angklung sebagai kegiatan formalitas.
“Kalau ada target tampil, anak-anak akan lebih termotivasi. Kami sedang mematangkan konsep konser angklung pelajar bersama para seniman,” katanya.
Pada puncak peringatan Hardiknas 2 Mei 2026 mendatang, nuansa angklung juga akan menjadi bagian penting dalam rangkaian acara. Sejumlah penampilan angklung dari berbagai jenjang pendidikan akan ditampilkan, mulai dari PAUD hingga sekolah menengah, sebagai simbol keberlanjutan budaya lintas generasi.
Di sisi lain, ia juga tengah menyusun langkah jangka panjang melalui penelusuran sejarah angklung di Kuningan. Proses tersebut, menurutnya akan dilakukan dengan melibatkan sejarawan dan saksi sejarah guna memastikan validitas data sebelum diajukan ke tingkat yang lebih luas.
“Sejarahnya harus kuat dan valid. Ini penting agar ketika diangkat ke level nasional, tidak ada keraguan,” tutupnya.
Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi




