Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Pendidikan

Gelar Nobar Film Pesta Babi, Ketua BEM Unisa Soroti Kehadiran Intel di Kampus

Nonton bareng film Pesta Babi yang digelar BEM Unisa Kuningan, Jumat (15/5/2026)

KUNINGAN – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Al-Ihya atau Unisa Kuningan menggelar nonton bareng film Pesta Babi. Acara digelar lesehan di aula Unisa, Jum’at, (15/5/2026).

Kegiatan tersebut berjalan lancar tanpa ada intimidasi atau pembubaran sebagaimana banyak terjadi terjadi di luar daerah. Hanya saja, Ketua BEM Unisa Kuningan, Muhammad Sayffulloh Rohman menyebutkan, acara tersebut dihadiri petugas yang mengaku intel di Kuningan.

Pihaknya sempat mempertanyakan kehadiran aparat ke dalam agenda mahasiswa yang digelar di intetnal kampus tersebut.  Menurutnya, nonton bareng sekaligus diskusi merupakan mimbar akademik yang sudah menjadi ruh kegiatan mahasiswa.

“Alhamdulillah kegiatan lancar. Meski tadi ada salah satu intel yang datang, kami tidak mengalami intimidasi apalagi pembubaran. Tapi, tadi juga kami mempertanyakan kehadirannya di ruang diskusi mahasiswa,” ujarnya kepada Cikalpedia.id.

Mengenai film yang telah diputar, Eful, menjelaskan bahwa tanah Papua saat ini sedang menjadi sasaran proyek strategis nasional. Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan berbagai persoalan sosial yang perlu diketahui publik, khususnya kalangan mahasiswa.

“Film ini mencoba menggambarkan realitas yang terjadi di Papua. Ada banyak persoalan kemanusiaan, konflik agraria, hingga dampak pembangunan yang perlu dikaji secara kritis oleh mahasiswa,” katanya.

Ia menilai, kampus memiliki peran penting sebagai ruang intelektual untuk membahas berbagai isu bangsa secara terbuka dan ilmiah. Oleh karena itu, pihaknya berharap tidak ada stigma negatif terhadap kegiatan diskusi maupun pemutaran film yang dilakukan mahasiswa.

“Mahasiswa harus tetap diberikan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan secara akademis. Selama dilakukan secara damai dan tertib, itu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi,” tutupnya.

Sebagai informasi, pemutaran film di Kabupaten Kuningan tengah masif digalakan. Selain dari BEM Unisa, film tersebut juga akan ditayangkan kembali oleh komunitas Tudgam yang akan digelar malam ini pukul 18.30 WIB di BEEK Grahawangi. Selain itu, flyer serupa juga disebar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kuningan.

HMI akan melakukan hal yang sama pada Sabtu, (16/5/2026) pukul 19.30 WIB di Sekretariat Bersama HMI KAHMI Kuningan.

Baca Juga :  Tiga Nama Menguat di Bursa Sekda Kuningan, BKPSDM Bungkam

Ketua pelaksana noba HMI, M. Al ghifari Kusumawardany, menyampaikan bahwa nobar tersebut merupakan bagian dari ruang diskusi intelektual dan penguatan tradisi literasi di kalangan mahasiswa. Film yang akan diputar mengangkat isu hukum, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Papua yang saat ini menjadi perhatian publik.

‎“Kegiatan ini bukan sekedar hiburan, tetapi menjadi ruang belajar dan bertukar gagasan bagi kader serta masyarakat,” ujarnya.

‎Selain pemutaran film, panitia juga menyiapkan sesi diskusi interaktif guna membahas pesan-pesan yang terkandung dalam film tersebut dari sudut pandang sosial, lingkungan, hukum, budaya, dan kemanusiaan.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana membangun budaya kritis, memperluas wawasan, serta mempererat silaturahmi antar mahasiswa dan pemuda di Kabupaten Kuningan.

‎Adapun film tersebut menceritakan tentang perjuangan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi masifnya ekspansi industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka.

‎Berdasarkan tailer yang beredar, cerita film tersebut bermula saat kapal besar datang ke tanah Papua untuk mendukung proyek strategis nasional di bidang pangan dan energi. Di sisi lain, masyarakat adat kehidupannya masih bergantung pada hutan dan tanah Papua.

‎Film tersebut memperlihatkan berbagai bentuk perlawanan masyarakat Papua terhadap proyek tersebut. Mulai dari pemasangan salib raksasa, palang adat, sampai munculnya Gerakan Salib Merah yang menyebar di wilayah selatan Papua sebagai simbol penolakan terhadap perusahaan dan militer yang masuk ke tanah adat mereka.

Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi