KUNINGAN — Sekitar seratus santri duduk bersila di aula Pondok Pesantren Modern Al Ihya, Cigugur, Jumat (13/2/2026). Mereka mengikuti kegiatan “DPRD Mengabdi dalam Pendidikan Demokrasi” bertema Generasi Santri Pelopor Demokrasi Indonesia yang menghadirkan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ika Siti Rahmatika, sebagai narasumber utama.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi demokrasi di kalangan generasi muda berbasis pesantren. Dalam pemaparannya, Ika menegaskan bahwa demokrasi tidak semata berkaitan dengan pemilu atau perebutan kekuasaan, melainkan nilai yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyinggung pentingnya kesadaran hak dan kewajiban warga negara, etika dalam menyampaikan pendapat, serta tanggung jawab menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Demokrasi harus dimulai dari sikap saling menghargai. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi dikelola melalui musyawarah,” ujarnya di hadapan peserta.
Materi disampaikan dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual dengan kehidupan pesantren. Istilah musyawarah, adab berdialog, dan ukhuwah menjadi pintu masuk untuk menjelaskan prinsip-prinsip demokrasi yang inklusif dan beretika. Suasana berlangsung tertib dan kondusif, dengan santri menyimak materi secara serius.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi dialog. Sejumlah santri mengangkat isu peran pemilih pemula, tantangan demokrasi di era digital, hingga potensi polarisasi akibat arus informasi yang tidak terverifikasi. Pertanyaan-pertanyaan kritis itu mencerminkan kepedulian mereka terhadap perkembangan sosial-politik yang lebih luas.
Seorang santri menanyakan bagaimana generasi muda dapat menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan politik. Pertanyaan lain menyoroti maraknya disinformasi di media sosial yang dinilai berpotensi merusak kualitas demokrasi. Menanggapi hal itu, Ika mengingatkan pentingnya literasi digital dan sikap tabayun sebelum menyebarkan informasi.
Menanggapi berbagai masukan dan pandangan para santri, Ika menyatakan apresiasinya terhadap keberanian peserta menyampaikan gagasan secara terbuka. Ia menilai diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa generasi muda pesantren memiliki kesadaran demokrasi yang tumbuh dari nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.
