“Setelah dihitung oleh tim ahli, anggarannya kira-kira Rp 200 miliar per rumah sakit. Dan negara mampu membangun itu. Tidak perlu lagi berobat ke Jakarta atau Singapura,” tegas Hasyim.
Ia juga mengungkap adanya tekanan dari pabrikan mobil asing yang ingin menggagalkan produksi kendaraan taktis Maung, buatan dalam negeri. Proposal mereka, dengan iming-iming fee Rp 650 miliar untuk Prabowo, ditolak mentah-mentah.
“Pak Prabowo justru menambah produksi Maung. Karena Maung itu bukan sekadar kendaraan militer, tapi simbol keberanian dan kebanggaan Sunda,” kata Hasyim.
Ardiyan: “Prabowo Satu-satunya yang Kita Cinta”
Di hadapan para relawan, H. Rokhmat Ardiyan — pengusaha, pemilik Puspita Cipta Group, dan tokoh Nahdlatul Ulama Kuningan — tampil penuh semangat. Ia menyebut Prabowo sebagai pemimpin ikhlas dan visioner, sebagaimana pernah diungkapkan Gus Dur.
“Beliau tentara yang tidak pernah berkhianat, banyak melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Sekarang, adalah puncak kebaikan Pak Prabowo. Dan saya yakin, hati Pak Jokowi pun sudah ke Prabowo,” ujar Ardiyan.
Ardiyan menyebut relawan Prabowo Mania sebagai “rumah besar semua kalangan.” Hadir dalam acara tersebut, relawan dari berbagai latar: dokter, guru, ulama, mojang jajaka, hingga pencinta sepak bola dan pesilat dari paguron lokal.
“Mari turun ke rumah-rumah, RT, RW. Sampaikan pesan bahwa hanya Prabowo Subianto yang bisa membawa Indonesia lebih adil dan sejahtera,” seru Ardiyan menutup orasinya.
Acara berakhir dengan pekikan yel-yel “Prabowo Presiden! Ardiyan DPR RI!” yang menggema di lereng Gunung Ciremai — sinyal bahwa pertempuran politik menuju 2024 mulai memanas dari jantung Kuningan.
