Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Opini

HMI Kritik Dominasi Patriarki di Media Sosial

Diskusi HMI Komisariat Unisa Kuningan, Sabtu (25/4/2026)

KUNINGAN – Peringatan Hari Kartini dimaknai secara kritis oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UNISA Kuningan. Para perempuan diajak untuk melawan ketidakadilan berbasis gender di tengah arus digitalisasi.

Upaya itu dilakukan melalui kajian membedah Konstruksi Citra Perempuan: Menantang Hegemoni Patriarki di Era Digital. Diskusi itu membuka ruang kesadaran baru tentang bagaimana perempuan menghadapi dan melawan ketidakadilan berbasis gender.

‎Kegiatan yang digelar di Sekretariat HMI Komisariat Unisa, Jum’at, (24/4/2026) itu tidak sekedar menjadi forum diskusi, tetapi juga refleksi mendalam atas kondisi perempuan masa kini.

‎Ketua Umum HMI Unisa Kuningan, Bintang Pujakusuma, menyampaikan bahwa di era media sosial yang serba cepat dan visual, citra perempuan kerap direduksi pada standar-standar sempit mulai dari konstruksi kecantikan yang tidak realistis, praktik body shaming, hingga objektifikasi dalam berbagai konten digital.

‎”Fenomena ini semakin kuat seiring maraknya tren viral di berbagai platform digital. Perempuan seolah didorong untuk selalu tampil sempurna, menarik, dan sesuai ekspektasi publik agar mendapatkan pengakuan di ruang media sosial,” ujarnya.

‎Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penilaian terhadap perempuan masih didominasi oleh aspek fisik dan citra yang dibangun, bukan pada kapasitas, gagasan, maupun kontribusi nyata yang dimiliki.

‎Ia juga menambahkan, hegemoni patriarki saat ini tidak selalu hadir secara terang-terangan, melainkan bertransformasi dalam bentuk yang lebih halus dan sistemik. Mulai dari komentar-komentar publik, pola algoritma media sosial, hingga tren konten yang secara tidak sadar memperkuat stereotip terhadap perempuan.

‎”Tanpa kita sadari, ruang digital turut mereproduksi ketimpangan gender. Ini yang perlu kita kritisi bersama,” tambahnya.

‎Sementara itu, Ayunindya Nathania Khairunnisa, selaku narasumber sekaligus fungsionaris Kohati Kuningan mengungkapkan bahwa konstruksi citra perempuan di era digital tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa yang sudah lama terbentuk dalam masyarakat.

‎Menurutnya, media sosial kerap menjadi ruang yang ambigu. Di satu sisi, lanjut dia, membuka peluang ekspresi dan partisipasi perempuan, namun di sisi lain juga menjadi arena baru bagi reproduksi nilai-nilai patriarki.

‎“Perempuan memang diberikan ruang untuk tampil dan bersuara, tetapi sering kali tetap berada dalam batasan-batasan yang ditentukan oleh standar sosial yang bias gender. Ketika keluar dari standar itu, tidak jarang justru mendapatkan stigma atau serangan,” jelasnya.

‎Selain itu, ia juga mendorong adanya solidaritas antar perempuan untuk saling menguatkan dalam menghadapi berbagai bentuk tekanan di ruang digital. Menurutnya, perubahan tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari gerakan kolektif yang konsisten menyuarakan kesetaraan.

‎Kajian tersebut berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Diskusi berkembang tidak hanya pada persoalan citra perempuan, tetapi juga pada upaya konkret yang bisa dilakukan mahasiswa dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman dan inklusif.

Baca Juga :  MUI Kuningan Imbau Umat Muslim Gelar Shalat Gerhana, Jadikan Momentum Pertebal Iman

Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi