KUNINGAN – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ika Siti Rahamatika, mengaku terkejut setelah mengetahui angka stunting di Kecamatan Garawangi masih menjadi yang tertinggi di Kabupaten Kuningan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam menekan kasus stunting, khususnya bagi kelompok sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

‎Pemerintah Kecamatan Garawangi menerangkan bahwa berdasar data pada Mei 2026, prevalensi stunting di wilayah tersebut mencapai 19,7 persen. Dari sekitar 2.900 balita, sedikitnya 490 anak tercatat mengalami stunting.

‎Ika mengatakan, sebagai warga Kabupaten Kuningan sekaligus anggota DPRD Jawa Barat, dirinya merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam upaya percepatan penurunan stunting.

‎”Terutama di Garawangi, ada sekitar 2.900 balita dan 19,7 persen atau sekitar 490 anak terdampak stunting. Saya sebagai warga Kuningan dan anggota DPRD Jawa Barat ingin turut serta berkontribusi menurunkan stunting di Kabupaten Kuningan,” ujarnya, Minggu, (28/6/2026).

‎Saat ditanya apakah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan dampak terhadap penurunan stunting, Ika menilai kondisi di lapangan menunjukkan perlunya evaluasi.

‎”Sepertinya seperti itu. Karena hari ini saya melihat sosialisasi yang disampaikan Presiden Prabowo maupun Badan Gizi Nasional (BGN), salah satu tujuannya untuk menurunkan stunting. Tapi hari ini saya mendengar masih ada kasus seperti ini. Berarti harus ada evaluasi, terutama terkait penerima MBG, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” katanya.

‎Menurutnya, temuan tersebut akan menjadi bahan laporan kepada Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Jawa Barat agar mendapat perhatian lebih lanjut. “Data ini akan kami laporkan untuk Fraksi PDIP. Bagaimanapun, stunting akan menghambat masa depan anak-anak,” tegasnya.

‎Sementara itu, Camat Garawangi, Maryanto, membenarkan bahwa wilayahnya masih mencatat angka stunting tertinggi di Kabupaten Kuningan. Meski demikian, pemerintah kecamatan terus berupaya melakukan berbagai langkah percepatan penanganan melalui koordinasi lintas sektor.

‎”Memang angka stunting di Kecamatan Garawangi mencapai 19,7 persen dan menjadi yang tertinggi di Kabupaten Kuningan. Namun kami terus berupaya semaksimal mungkin berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk menyusun berbagai gerakan dan program untuk mengatasi stunting. Kami juga rutin berkoordinasi dengan pihak MBG,” ujarnya.

‎Maryanto menilai Program MBG memiliki tujuan yang baik, namun pelaksanaan teknisnya masih perlu penyempurnaan agar lebih tepat sasaran.

‎”Menu untuk balita yang masih mengonsumsi ASI tentu harus dibedakan dengan menu anak-anak sekolah. Hal ini juga sudah kami sampaikan dalam rapat koordinasi di tingkat kabupaten. Programnya bagus, tetapi dari sisi menu dan teknis lainnya memang perlu dievaluasi,” jelasnya.

‎Ia berharap ke depan terdapat sistem yang lebih spesifik dalam mendukung percepatan penanganan stunting, termasuk keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang difokuskan bagi kelompok rentan.

‎”Harapannya ke depan minimal ada dapur SPPG yang memang dikhususkan untuk pengentasan stunting, sehingga penanganannya bisa lebih optimal,” tutupnya.