KUNINGAN — Di atas kertas, Kabupaten Kuningan adalah “lumbung” yang sedang meluap. Sepanjang tahun 2025, produksi padi di kaki Gunung Ciremai menembus angka 396.873 ton gabah kering giling setara dengan 254.435 ton beras. Setelah dikurangi konsumsi warga lokal, daerah ini menggenggam surplus hingga 120 ribu ton. Sebuah lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang “hanya” 93 ribu ton.

Namun, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskantan) Kuningan, Wahyu Hidayah, tak ingin terjebak dalam angka-angka yang memabukkan tersebut. Dalam kegiatan pembinaan penyuluh, kemarin, Wahyu justru melempar peringatan keras yang memutus suasana euforia. Ia menyoroti fenomena penyuluh pertanian yang “tak terlihat” sosok yang tercatat dalam birokrasi, namun absen di tengah kegelisahan petani.

“Tidak boleh ada lagi penyuluh yang tidak terlihat oleh petani. Mereka harus hadir, aktif, dan menjadi solusi nyata di lapangan,” ujar Wahyu dengan nada yang tak menyisakan ruang debat.

Surplus yang Tak Boleh Rapuh

Hingga akhir Maret 2026, tren produksi Kuningan memang menunjukkan performa agresif. Sebanyak 78 persen atau sekitar 20.310 hektare lahan sawah telah dipanen lebih cepat dibandingkan daerah lain di Jawa Barat yang baru mulai sibuk di bulan April. Kecepatan panen ini menempatkan Kuningan sebagai penyuplai dini stok beras nasional di awal tahun.

Namun, Wahyu melihat fondasi kesuksesan ini masih rapuh jika pendampingan di akar rumput masih bersifat administratif belaka. Keluhan petani yang merasa “tidak tersentuh” oleh penyuluh ia posisikan sebagai tamparan bagi instansinya. Baginya, kritik tersebut adalah indikator bahwa ada sumbatan komunikasi antara pengetahuan teknologi di kantor dinas dengan implementasi di sawah.

“Masih ada petani yang merasa belum pernah didampingi. Ini adalah evaluasi serius yang tidak boleh kita sangkal,” tegasnya.

Redefinisi Peran: Bukan Sekadar Pendamping Teknis

Tantangan pertanian modern di Kuningan kian kompleks. Fluktuasi harga pupuk, anomali iklim, hingga serangan hama menuntut penyuluh untuk bertransformasi menjadi “penggerak” (influencer pertanian), bukan sekadar petugas pencatat luas tanam.

Diskantan kini mendorong perubahan pola kerja yang lebih proaktif dan adaptif dengan memanfaatkan teknologi informasi. Wahyu menekankan tiga pilar yang harus dimiliki penyuluh masa kini: kedalaman pengetahuan, kemampuan membangun kepercayaan (trust), dan integritas moral yang tak bisa ditawar.

Menjaga Nafas Swasembada

Pesan Wahyu Hidayah jelas yaitu swasembada pangan bukan sekadar soal tumpukan karung beras di gudang Bulog, melainkan tentang kehadiran negara dalam setiap butir peluh petani. Di tengah target produksi yang terus menanjak, Kuningan sedang mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai penyangga pangan nasional.

Bagi Wahyu, keberhasilan pertanian adalah ketika petani tak lagi bertanya “siapa penyuluh saya?”, karena sang penyuluh sudah lebih dulu ada di samping mereka sebelum masalah datang mengetuk pintu. (ali)