
SEMARAK menyambut peringatan Isra Mi’raj 1447 H. mulai bergema di musola dan masjid di Kabupaten Kuningan. Majelis taklim ibu-ibu termasuk khutbah jum’at tidak lepas membicarakan ulang peristiwa yang dialami Nabi Muhammad Saw. Peristiwa itu menjadi khazanah, yang hikmahnya terus digali dan disebarkan berulang. Tujuannya satu, supaya kualitas iman dan takwa setiap muslim semakin baik.
Kualitas beriman dan bertakwa sangat penting karena dampaknya sangat luar biasa besar, terutama dalam menjamin keselamatan diri dan lingkungan di sekitarnya. Kata Nabi, seseorang tidak bisa dikatakan beriman jika tetangganya tidak merasa aman darinya. Di dalam KBBI, tetangga diartikan sebagai orang yang rumahnya berdekatan atau sebelah – menyebelah. Di lain hal disebutkan bahwa batasan tetangga itu 40 rumah, ke samping, depan, dan belakang.
Meski definisi tetangga identik dengan rumah atau orang, pendalaman atas definisi itu penting untuk terus dikembangkan. Tetangga sejatinya tidak hanya rumah dan orang secara fisik yang tampak wujudnya, tetapi lebih dari itu yakni tentang harkat dan martabat, keamanan, kesejahteraan, kedamaian, dan kebutuhan psikis lainnya. Bahkan, tetangga juga bukan hanya orang dalam arti person, tetapi entitas yang ada di sekitar atau di sekeliling manusia, seperti selokan, sawah, hutan, hewan, gunung, dan lain sebagainya. Keberadaan orang-orang beriman dan bertakwa harus bisa menjamin eksistensi semua yang disebutkan itu.
Karena hal itu, mendalami makna Isra Mi’raj tidak sebatas memoles dan menguatkan kesalehan pribadi, misalnya semakin rajin dan khusu’ menjalani ritual sholat sebagai oleh-oleh dari peristiwa Mi’raj. Itu saja tidak cukup. Kesalehan seorang yang beriman dan bertakwa wajib berdampak pada kesalehan sosial. Orang-orang yang sholat harus bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman, sehat, bebas dari sampah, penggundulan hutan, dan tindakan eksploitatif lainnya. Bukan malah sebaliknya. Al-Quran sudah sangat tegas menyatakan bahwa sholat merupakan pencegah perbuatan keji dan munkar.
Sholat seperti apa dan yang bagaimana? Dewasa ini ritual sholat sangat jelas dan tampak riuh diupdate di media sosial tetapi seolah berlomba dengan tindakan kejahatan, pembalakkan liar, korupsi, penipuan, dan sejenisnya. Jawabannya adalah sholat yang benar-benar didirikan. Bukan yang hanya dilaksanakan.
Selain tentang iman dan takwa, serta sholat yang harus menjadi kesalehan pribadi dan sosial, pemaknaan Isra Mi’raj juga harus menyadarkan umat, bahwa peristiwa itu tidak lahir dari ruang hampa. Tidak ujug-ujug, hanya karena Nabi sedang dalam suasana duka pasca istri dan paman yang melindunginya wafat, sehingga harus dihibur. Bukan sebatas itu. Said Nursi dalam Mustikasari (2021), mengungkapkan bahwa perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yarusalem kemudian ke Sidratul Muntaha, merupakan penghargaan atau panggilan terhadap Nabi yang konsisten mendengar dan melihat seluruh tanda kekuasaan dan ciptaan Allah SWT. Bentuk pendengaran dan penglihatannya itu melekat dalam wujud keseharian laku Nabi yang senantiasa tunduk dan patuh pada perintah dan larangan-Nya.
Prihal konsistensi Nabi dalam mendengar dan melihat tanda kekuasaan dan kreasi Allah Swt., di luar konteks risalah kenabian, menjadi poin penting untuk seluruh umatnya. Para pencintanya harus menggali dan mengambil spirit itu yang kemudian dijadikan nilai dasar atau landasan dalam bertindak dan berprilaku. Sehingga, peringatan Isra Mi’raj tidak jatuh pada pengulangan dan seremonial, melainkan menyentuh tujuan intinya yakni meningkatkan kualitas keimanan kepada Nabi dan al-Quran serta penguatan, meminjam istilah Cak Nur, omnipresent atau kemahahadiran Allah Swt.
Kesadaran terhadap kemahahadiran Allah Swt ini penting diupgrade dan diperkuat karena akan berpengaruh besar pada konsistensi tindakan atau laku setiap orang. Di setiap kondisi apapun, ketika kesadaran bahwa Allah hadir dan senantiasa melihat, setiap individu akan terjaga. Ia akan terus berbuat baik tanpa kecuali. Tidak ada kesempatan sedikitpun untuk berprilaku buruk apalagi keji. Begitulah Nabi, ketika dilempar batu atau diludahi, beliau justru menjadi orang pertama yang menjenguk setiap yang memusuhinya. Beliau juga tidak berhenti menyuapi kakek tua yang tanpa henti menghinanya.
Di dalam sejarahnya juga, Nabi senantiasa melawan segala bentuk perampasan hak-hak asasi setiap orang di sekitarnya. Beliau berjuang sepenuh hati dan penuh keberanian. Harta dan nyawanya dijadikan jaminan untuk menolak perbudakan dan perampasan hak hidup perempuan, simbol orang tak punya nilai, di mata kelompok orang-orang jahiliyah.
Nabi juga menggeser, bahkan mengganti, orientasi hidup jahiliyah yang semula memuja kegagahan, kemewahan, spirit primordial, dan tujuan jangka pendek, menjadi visi jauh ke depan dengan mengedepankan kemuliaan akhlak. Dan, yang tidak kalah pentingnya lagi, Nabi tidak sekedar melawan dan mengubah, tetapi menjadi pelaku ideal sebagai sosok yang wajib dicontoh. Beliau rendah hati, ramah, hidup sederhana, inklusif, dan berpikir jangka panjang untuk kebaikan saat itu dan hari akhir. Tidak hanya untuk pengikutnya, tetapi seluruh umat manusia. Beliau membawa misi rahmatan lil alamin.
Syahdan, Isra Mi’raj merupakan puncak dari proses panjang kehidupan yang dilandasi ketaatan penuh atas segala perintah dan larangan-Nya. Sebuah konsistensi ketaatan. Peringatannya bukan sebatas ketakjuban atas perjalanan singkat di suatu malam yang tidak ada tandingnya, melainkan bagaimana menjalani proses hidup yang konsisten dan terus lebih baik. Perjalanan yang lurus kemudian terbang vertikal menuju realitas yang lebih tinggi, menuju puncak pencerahan. Seperti kata, Salahudin (2017), menuju sidrah yang artinya pohon simbol pencerahan akal budi, dan muntaha yang berarti puncak. Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Sopandi / Ceng Pandi
Dosen UNISA Kuningan / Redaktur Cikalpedia.id.




