Usaha ini tentu tidak selalu mulus. Pasang surut ekonomi, perubahan selera masyarakat, hingga tantangan harga bahan baku pernah menguji keteguhan Mun.
Namun, lontong buatannya tetap bertahan, karena bukan hanya soal rasa, tapi juga kepercayaan dan kenangan. Banyak pelanggan yang mengatakan, “Lontong Mun itu beda, ada rasanya sendiri.”
Di balik setiap lontong yang tersaji, ada kerja keras, doa, dan dedikasi seorang perempuan yang memilih bertahan di jalannya.
Mun mungkin tak banyak dikenal di luar pasar Karangampel, tapi lewat lontong-lontongnya, ia telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang.
Profesi ini sederhana, namun justru di sanalah letak keistimewaannya: Mun mengajarkan kita bahwa ketekunan menjaga tradisi bisa menjadi sumber rezeki yang tak pernah habis, selama dikerjakan dengan hati.(Beng).
