Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Cerpen

Panggilan Dari Rumah

Damar? Ia duduk di teras, mengenakan baju koko putih dan peci, senyum bangga tak henti tergambar di wajahnya.

Vano mendekatinya.

“Pak…” sapanya, duduk di samping ayahnya.

“Lihat ini…” kata Damar pelan. “Dulu rumah kita nggak punya halaman. Sekarang cucumu bisa lari-lari sampai belakang.”

Vano tertawa kecil. “Aku masih ingat waktu rumah kita dulu kosong. Diambil bank. Aku kecil, masih nggak ngerti apa-apa. Tapi sekarang aku sadar… waktu itu yang paling penting bukan kehilangan rumah, tapi cara Bapak dan Ibu saling menggenggam tangan, meski nggak punya apa-apa lagi.”

Damar terdiam lama. “Aku pernah lari, Van. Karena aku pikir laki-laki harus kuat sendiri. Tapi ternyata… laki-laki yang kuat itu bukan yang nggak pernah jatuh. Tapi yang mau pulang waktu dia tersesat.”

Vano menatap ayahnya, mata mereka saling menahan haru.

“Rumah itu bukan bangunan, Pak,” bisik Vano. “Rumah itu hati yang saling menunggu. Dan aku tumbuh di dalam rumah yang paling kokoh di dunia.”

Di dalam, Lestari memanggil. Tamu-tamu mulai datang. Ada tetangga lama, karyawan laundry yang dulu ikut tumbuh bersama mereka, dan anak-anak muda yang jadi murid Lestari dalam pelatihan UMKM.

Sore itu, mereka makan bersama di bawah pohon, tertawa, bercerita, dan mengenang masa lalu bukan dengan luka—tapi dengan rasa syukur.

Dari reruntuhan, mereka membangun rumah. Dan rumah itu kini berdiri bukan hanya di tanah, tapi di hati anak-anak mereka.

Hanya Fiksi Sembari Ngopi By Bengpri

Baca Juga :  Sempat Ramai Disoal, Tunjangan Anggota DPRD Sedang Dikaji. Zul Minta Segera

Leave a Comment