KUNINGAN – Sekolah Dasar Yos Sudarso, Cigugur untuk pertama kalinya menggelar perayaan tahun baru Imlek di lingkungan sekolah. Kegiatan yang berlangsung, Senin (16/2/2026) itu sangat meriah dan berkesan. Siswa dan pihak guru termasuk orang tua tampak bersuka cita, berbaur, memeriahkan tahun kuda api.
Perayaan yang identik dengan nuansa merah dan emas itu diisi berbagai kegiatan edukatif, mulai dari unjuk bakat siswa, pertunjukan seni, hingga pengenalan budaya Tionghoa. Para siswa bersorak ria saat menyaksikan pertunjukan barongsai sebagai ikon perayaan tersebut.
Kepala Sekolah SD Yos Sudarso, Andri Suryadi, menerangkan bahwa kegiatan tersebut digelar untuk membangkitkan kembali budaya Tionghoa di Kabupaten Kuningan. Tahun baru ini menjadi momen untuk memperkenalkan kepada para pelajar supaya lebih mengenal tradisi dan makna perayaan Imlek.
”Kegiatan ini atas dasar kesepakatan dengan komite sekolah dan para orang tua, khususnya dari Tionghoa. Setelah kami berdiskusi, mereka merasa kekhawatiran budaya kelenteng di Kabupaten Kuningan ini mulai meredup. Kegiatan ini pertama kali kita rayakan, supaya anak-anak mengenal apa itu budaya Imlek,” ujar Andri.
Adapun tema yang diusung dalam perayaan itu yakni “Berbeda tradisi tetapi satu hati”. Andri menuturkan, tema tersebut mencerminkan sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, meskipun setiap orang memiliki tradisi yang berbeda, namun saling menghargai dan menghormati menjadi kunci kehidupan yang rukun di tengah perbedaan.
Selain perayaan Imlek, pihaknya berencana akan menggelar berbagai kegiatan dengan nuansa kebudayaan. Hal itu, kata Andri, sebagai upaya untuk membentuk karakter berbasis budaya.
”Inti dari pendidikan, yaitu budaya. Karakter siswa itu bukan diajarkan, tetapi dibudayakan. Kedepan, kami juga akan menggelar berbagai budaya lainnya di lingkup sekolah, seperti Sunda, Batak, dan lain-lain,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap Pemerintah Daerah dapat memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pendidikan. Ia menilai, pembentukan karakter melalui budaya merupakan salah satu pondasi dalam membangun sikap saling menghargai.
”Setiap kegiatan dilaksanakan mandiri dan bantuan masyarakat, belum meminta bantuan dari dinas. Tetapi harapan kami, semoga dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan dapat memberikan atensi dan dukungan dalam mendorong mengembangkan setiap budaya,” tutup Andri. (Icu)
