Dalam forum tersebut, KWT Cipaku mengusulkan dukungan konkret berupa bantuan bibit unggul, pelatihan budidaya, serta fasilitasi akses pasar agar hasil pertanian memiliki nilai jual yang lebih baik. Mereka juga berharap adanya kemitraan dengan koperasi atau BUMDes untuk memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan petani kecil.
Menanggapi aspirasi itu, Ika menilai peran perempuan tani tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, penguatan KWT merupakan investasi strategis bagi ketahanan pangan desa sekaligus pemberdayaan ekonomi keluarga.
“Ketika perempuan desa berdaya secara ekonomi, dampaknya langsung terasa pada gizi keluarga, pendidikan anak, dan stabilitas sosial,” ujarnya.
Ia berkomitmen membawa usulan tersebut ke tingkat provinsi, khususnya terkait program pemberdayaan pertanian berbasis keluarga dan dukungan pemasaran hasil tani. Ika juga mendorong pemerintah desa untuk mengintegrasikan program KWT dalam perencanaan pembangunan desa agar tidak berjalan sporadis.
Bagi perempuan tani Cipaku, perjuangan mereka bukan sekadar menanam dan memanen. Mereka sedang mempertahankan ketahanan pangan keluarga sekaligus memperjuangkan pengakuan bahwa kerja di kebun adalah fondasi ekonomi desa. Tanpa dukungan nyata, lahan-lahan kecil yang mereka kelola akan terus menghasilkan panen yang tak sebanding dengan jerih payah dan ketahanan pangan hanya akan menjadi slogan tanpa akar di tanah sendiri. (ali)
