Masa aksi kemudian membubarkan diri dengan raut kecewa atas ketidakhadiran Bupati Kuningan. Pihaknya juga menyebut akan kembali dengan jumlah masa yang lebih besar.
Sementara itu, Tuti Andriyani mengapresiasi kritik dan aspirasi yang disampaikan oleh massa aksi. Menurutnya, Pemerintah Daerah terbuka terhadap siapa pun yang ingin menyampaikan aspirasi secara konstruktif dan membangun.
Ketika ditanya soal ketidakhadiran Bupati Dian, Tuti menerangkan bahwa sedang ada kegiatan di Jakarta dengan Kementerian Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian PUPR.
“Tiga hari sudah teragendakan, Pak Bupati sedang ada kegiatan di Jakarta. Alhamdulillah, tadi dapat kabar hasil dari pertemuan itu tentu untuk kemajuan di Kabupaten Kuningan,” ujar Tuti.
Selain itu, salah satu isu yang kini menjadi sorotan, yakni dugaan penyadapan getah pinus ilegal. Ia menegaskan, bahwa Pemda sudah mengirimkan surat mengenai kejadian tersebut. “Mengenai getah pinus, kami sudah berkirim surat juga. Kami tidak bisa langsung bertindak, karena itu ada kewenangannya di kementerian kehutanan,” tegasnya.
Sebagai penutup, Tuti berkomitmen akan terus memberikan ruang dialog yang terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Menurutnya, kritik yang disampaikan menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Daerah dalam memperbaiki kinerja ke depan. (Icu)
