KUNINGAN – Istilah dapur yang identik dengan api sebagai inti dari pengolahan makanan belum didukung dengan proteksi keamanan yang memadai. Termasuk dapur MBG di Kuningan, dari total yang beroperasi, baru enam dapur yang sudah berkoordinasi dengan pemadam kebakaran untuk memaksimalkan upaya pencegahan.
Hal itu dikemukakan oleh Kepala UPT Damkar Satpol PP Kuningan, Andri Arga Kusuma, ketika dikonfirmasi Cikalpedia.id. Menurutnya, dapur MBG memiliki resiko tinggi kecelakaan kerja karena setiap hari berhubungan dengan api, lstrik, dan bahan-bahan yang mudah terbakar. Minimnya perhatian terhadap resiko itu sangat membahayakan bagi kelanjutan program.
“Tanpa pemahaman dan kesiapsiagaan yang memadai, risiko tersebut dapat membahayakan keselamatan petugas dapur dan kelangsungan operasional program MBG,” tutur Andri, Rabu (14/1/2026)
Mengingat bahwa potensi kebakaran cukup tinggi, pihaknya mengingatkan supaya seluruh pengelola SPPG di Kabupaten Kuningan segera melakukan edukasi dan pelatihan pencegahan kebakaran secara menyeluruh. Menurutnya, pelatihan tidak hanya sebatas teori, tetapi juga disertai praktik langsung agar para petugas dapur memahami langkah yang tepat saat terjadi kondisi darurat.
”Kebijakan untuk pelatihan itu bisa didorong dari Satgas. Karena enam dapur yang sudah pelatihan bukan atas intruksi, melainkan inisiatif karena ada hubungan emosional dengan kami,” tuturnya.
Andri menyebutkn, Enam SPPG yang sudah melakukan edukasi dan pelatihan antara lain SPPG Sangkanurip, Paniis, Windusengkahan, Purwawinangun, Mekarwangi, dan Babakanreuma. Di enam dapur itu pihaknya memberikan edukasi sekaligus pelatihan bagaimana cara memadamkan api dengan efektif dan tidak memicu bahaya bagi pengguna proteksi kebakaran.
”Kami juga yang biasa menangani kebakaran, satu bulan sekali rutin pelatihan. Kalaupun di dapur SPPG sudah ada Apar, cara penggunaannya memerlukan teknik khusus,” tambahnya. (Icu)
