
KUNINGAN – Trofi juara Liga 2 Futsal Nasional masih berada di tangan para pemain Proton FC. Namun, bagi manajemen klub, selebrasi sudah selesai. Promosi ke Pro Futsal League (PFL) 2026/2027 justru menjadi awal dari pekerjaan yang lebih berat, yakni memenuhi seluruh persyaratan lisensi klub profesional yang ditetapkan Federasi Futsal Indonesia (FFI).
Presiden Proton FC, Thony Indra Gunawan, mengatakan keberhasilan menjuarai Liga 2 merupakan hasil dari perjalanan kompetisi yang berlangsung hampir tujuh bulan. Kini fokus klub bergeser dari persaingan di lapangan menuju proses administrasi dan verifikasi yang menjadi syarat tampil di kasta tertinggi futsal nasional.
“Alhamdulillah, setelah berkompetisi hampir enam hingga tujuh bulan, Proton FC berhasil meraih juara Liga 2 Futsal Indonesia. Kami mohon doa dari masyarakat Kabupaten Kuningan agar proses lisensi dari Federasi Futsal Indonesia segera selesai,” kata Thony di Pendopo Kabupaten Kuningan, Senin (29/6/2026).
Menurut dia, lisensi klub bukan sekadar persyaratan administratif. Proses tersebut menjadi penentu apakah Proton FC dapat tampil sebagai peserta Pro Futsal League musim depan.
Federasi Futsal Indonesia mewajibkan setiap klub memenuhi sejumlah aspek, mulai dari legalitas badan hukum, struktur organisasi, kesiapan finansial, hingga ketersediaan fasilitas pertandingan yang sesuai standar kompetisi. Seluruh dokumen akan diverifikasi sebelum klub dinyatakan layak mengikuti liga profesional.
Bagi klub yang baru promosi, persoalan infrastruktur sering menjadi tantangan terbesar. Tidak sedikit tim harus menggunakan kandang di luar daerah karena belum memiliki arena yang memenuhi standar penyelenggaraan pertandingan nasional.
Kondisi serupa juga menjadi perhatian Proton FC. Hingga kini, klub asal Kabupaten Kuningan itu belum memiliki arena futsal yang dapat dijadikan kandang tetap di kompetisi Pro Futsal League.
Harapan baru muncul setelah Pemerintah Kabupaten Kuningan menyatakan komitmennya membangun arena futsal berstandar nasional. Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., bahkan telah menyampaikan rencana tersebut saat menyambut kepulangan Proton FC usai meraih gelar juara.
Bagi Thony, dukungan pemerintah daerah menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan klub. Menurut dia, kehadiran arena yang representatif tidak hanya menjawab kebutuhan Proton FC sebagai peserta liga profesional, tetapi juga membuka ruang pembinaan atlet futsal di Kuningan.
“Itu memang menjadi cita-cita kami. Di mana pun kami bermain, kami tidak pernah lepas membawa nama Kuningan. Kalau nanti Kuningan memiliki venue latihan yang representatif, saya yakin ini akan menjadi daya tarik bagi pemain-pemain berkaliber nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan fasilitas olahraga yang memadai akan memberikan dampak lebih luas daripada sekadar menjadi kandang sebuah klub. Arena tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembinaan usia dini, penyelenggaraan turnamen, hingga pengembangan ekosistem futsal di daerah.
Promosi ke Pro Futsal League juga membawa konsekuensi meningkatnya kebutuhan operasional klub. Persaingan di kasta tertinggi menuntut manajemen memiliki organisasi yang lebih profesional, dukungan sponsor yang kuat, serta fasilitas yang sesuai dengan regulasi federasi.
Meski demikian, Thony optimistis Proton FC mampu melewati seluruh tahapan tersebut. Ia berharap dukungan masyarakat tetap mengalir agar klub dapat mewakili Kabupaten Kuningan di kompetisi futsal tertinggi Indonesia.
Bagi Proton FC, gelar juara Liga 2 bukan garis akhir. Trofi itu menjadi tiket menuju tantangan yang lebih besar. Jika proses lisensi dapat diselesaikan dan pembangunan arena futsal terealisasi, Kuningan bukan hanya memiliki wakil di Pro Futsal League, tetapi juga peluang membangun fondasi baru bagi perkembangan futsal profesional di daerah. ***




