KUNINGAN – Fakultas Ilmu Keislaman (FIK) Unisa Kuningan menggelar Yudisium tahun akademik 2025-2026. Rektor Unisa Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, menekankan supaya kalkulasi kehidupan tidak sepenuhnya berbasis pada akal dan pikiran.

Iman menjelaskan, di luar kalkulasi akal manusia, kehidupan mengandung banyak keajaiban. Secara kalkulasi akal tidak mungkin bisa naik haji, tetapi ada saja orang atau individu yang bisa menjalankan ibadah haji atau umroh tanda diduga-duga.

Begitu halnya, ada orang yang tidak tercatat sebagai pegawai negeri sipil, bukan pejabat, bukan karyawan sebuah perusahaan besar, tetapi rezekinya terus mengalir sehingga mampu memenuhi setiap kebutuhannya.

“Ada kalkulasi ilahi. Tidak semua aspek kehidupan harus diukur dengan kalkulasi akal atau pikiran manusia. Maka jadikanlah keyakinan dan keimanan sebagai prisai dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya, saat mengisi Yudisium FIK, Sabtu (22/8/2026) di Rageman Resto Kuningan.

Karena hal itu, pihaknya berpesan kepada para lulusan supaya menjadikan al-Quran dan akhlak mulia sebagai landasan berkehidupan. Dua hal itu harus tercermin dalam sikap yang ramah terhadap semua makhluk Allah di muka bumi

“Jadilah penyambung dakwah rahmatan lilalamin. Jangan rusak islam oleh pribadi. Santun dengan siapa saja, hargai keyakinan dan pikiran orang lain,” tuturnya.

Kemudian, menurutnya, para lulusan juga harus bisa menjaga silaturahmi. Ajaran yang sangat mulia itu merupakan salah satu kecerdasan penting yang harus dirawat dan dikembangkan, karena dengan bersilaturahmi, berbagai kebaikan bisa didapat.

“Jaga nama baik almamater. Harus berbakti di masyarakat. Urusan rejeki Tuhan yang ngatur. Jadi guru atau da’i harus propesional, tapi tetap abdikan diri di masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Dekan FIK Unisa Kuningan, Dr. Arif Fauzan, mengapresiasi perjuangan panjang 80 lulusan yang bisa sampai ke tahap akhir tahun ini. Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan dan doa dari orang tua, keluarga, dosen, dan para pihak yang langsung maupun tidak langsung berkontribusi pada kelancaran karir akademik masing-masing.

Pihaknya juga meminta, para lulusan FIK terus belajar, menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik, dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Menurutnya, orang yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain.

Pantaua Cikalpedia, Yudisium diikuti 80 lulusan program sarjana dan magister yang meliputi sarjana (S1) Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru MI, Perbankan Syariah, Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta Magister (S2) Pendidikan Agama Islam.