Ada pula orang tua murid dari luar daerah yang mengaku termotivasi untuk mendukung pendidikan anaknya setelah menonton konten Rika.
“Saya tidak mencari popularitas, Saya hanya ingin perjuangan guru-guru di pelosok juga dilihat, agar dunia tahu bahwa pendidikan tidak hanya hidup di kota besar” ujarnya lembut.
Kini, dengan lebih dari puluhan ribu followers, Rika memanfaatkan media sosial bukan untuk popularitas, tapi untuk membangun ruang inspirasi baru.
“Membangun followers tidak mudah, kita harus tahu jati diri, tahu pesan apa yang ingin disampaikan, dan siap konsisten. Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi guru itu keren, bermartabat, dan bisa tetap relevan di era digital.” ujarnya jujur.
Namun, dunia maya tidak selalu ramah. Rika paham betul, semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin berembus.

“Ada saja yang menilai negatif,” katanya tersenyum. “Tapi saya belajar, tidak semua komentar harus dibalas. Kadang, diam adalah cara terbaik menjaga niat.”
Ia belajar bahwa penghargaan sejati bukan dari jumlah like, melainkan dari ketenangan hati saat tahu bahwa yang dilakukan membawa manfaat.
“Kalau saya bisa membuat satu orang saja termotivasi untuk mencintai pendidikan, itu sudah cukup,” tambahnya.
Ia memandang kritik bukan sebagai penghalang, tapi sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri. Dalam setiap langkahnya, Rika mencoba menjaga keseimbangan antara teknologi dan ketulusan, layar dan hati, modernitas dan makna.
“Tapi saya belajar untuk kuat, karena apresiasi terbesar bukan dari orang lain, melainkan dari hati yang tenang setelah berbuat sebaik mungkin.”
Meski telah memimpin sekolah dan dikenal luas, Rika tak pernah berhenti bermimpi. Ia ingin melanjutkan studi S2, mengembangkan program literasi di desanya, dan membawa nama SDN 1 Langseb ke ajang kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi bahkan nasional. Baginya, mimpi bukan sekadar angan, tapi bahan bakar untuk terus berjalan.
“Saya ingin murid-murid saya tahu bahwa belajar tidak berhenti hanya karena kita sudah dewasa. Guru mereka pun masih belajar, masih berjuang.” Ucapnya.
Dalam sosok Rika Mudrikah, kita melihat potret kepemimpinan muda yang lembut tapi berdaya. Ia memimpin dengan hati, mengajar dengan makna, dan berbagi dengan ketulusan.
Di tangannya, sekolah di desa kecil bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis, tetapi tempat menumbuhkan harapan.
Rika mungkin tak berteriak tentang prestasi, tapi dari caranya berjalan konsisten, kita tahu dirinya sedang menulis kisah kepemimpinan yang indah, dengan tinta ketulusan dan semangat belajar yang tak pernah usai.
Rika Mudrikah adalah gambaran nyata pendidik muda masa kini, lahir dari desa, berjuang dengan nilai, dan beradaptasi dengan zaman. Ia menjembatani dunia tradisi dan teknologi, menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam pendidikan tidak diukur dari usia, melainkan dari ketulusan dan keberanian untuk terus belajar.
Di antara layar-layar ponsel dan papan tulis sekolahnya yang sederhana, Rika menulis kisah kepemimpinan yang penuh makna. kisah seorang perempuan muda dari Babatan yang tak pernah lelah menyalakan cahaya pendidikan, baik di kelas nyata maupun di dunia digital.
“Semoga apa yang Saya lakukan, bermanfaat untuk dunia pendidikan khususnya untuk anak-anak di Kuningan” Pungkasnya. (Beng).
