
BANDUNG — Di salah satu sudut lapangan rumput ala kadarnya di Jawa Barat, belasan anak usia dini tampak antusias menggiring bola. Namun, di balik semangat anak-anak tersebut, ada keresahan tersendiri bagi para pembina lokal yaitu minimnya kompetisi kelompok umur yang bersiklus rutin dan terstruktur, sebuah rantai terpenting yang sering kali memutus jalan talenta daerah menuju panggung profesional.
Dahaga akan sistem pembinaan yang terintegrasi inilah yang kini menumpuk di meja kepengurusan baru Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat.
Dr. Buky Wibawa Karya Guna, M.Si., yang akrab disapa Kang Buky, resmi dikukuhkan sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Barat periode 2026–2030. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat tersebut terpilih secara aklamasi dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI Jabar yang digelar di Hotel Horison, Bandung, Sabtu (17/10/2026).
Pria yang dikenal aktif dalam berbagai agenda sosial-politik Jawa Barat ini melenggang mulus sebagai calon tunggal setelah dua pesaing utamanya, yakni Tommy Apriantono dan Muhammad Farhan, memutuskan mundur dari bursa pencalonan. Dukungan bulat pun mengalir dari sekitar 95 pemilik suara (voters) yang hadir menyerahkan mandat kepemimpinan.
Sejak tahapan pengambilan nomor urut hingga pengukuhannya, Buky konsisten menggarisbawahi pentingnya kerja kolektif dalam membenahkan ekosistem sepak bola di Tanah Pasundan.
“Alhamdulillah, proses pengambilan nomor urut hingga Kongres Luar Biasa ini berjalan lancar. Saya percaya, sepak bola Jawa Barat tidak bisa dibangun oleh satu orang. Dibutuhkan pengalaman, pengetahuan, dan kolaborasi dari banyak pihak,” ujar Buky.
Menurutnya, pengalaman dan pengetahuan organisasi harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang luwes di antara seluruh pemangku kepentingan.
Pengukuhan ini menandai dimulainya babak baru bagi PSSI Jabar, sekaligus memperhadapkan kepengurusan baru pada tumpukan pekerjaan rumah. Kendati memiliki basis akar rumput yang masif dengan ribuan sekolah sepak bola (SSB), klub amatir, dan talenta muda yang tersebar di 27 kabupaten/kota sistem pembinaan usia dini di Jawa Barat kerap berjalan tanpa arah yang terintegrasi.
Tantangan utama kepengurusan PSSI Jabar periode 2026–2030 tak sekadar menggelar turnamen secara berkala, melainkan menjahit kembali komunikasi yang sempat tersumbat antara PSSI provinsi dengan asosiasi di tingkat kabupaten/kota, pelatih, hingga pemilik klub.
Para pecinta sepak bola Jawa Barat kini menanti, sejauh mana gagasan kolaborasi yang diusung sang Ketua DPRD Jawa Barat itu mampu diterjemahkan menjadi program nyata. Sebab bagi anak-anak di seluruh pelosok daerah Jawa Barat, kepemimpinan baru ini bukan sekadar panggung politik organisasi, melainkan penentu apakah mimpi mereka di lapangan hijau bisa menjadi kenyataan. ***




