Ia menyamakan tanah dengan tubuh manusia: bila terus dijejali zat kimia, lama-lama akan keracunan. Maka, pilihan organik bukan hanya tren, tapi keniscayaan. Terlebih, ada kebanggaan lokal yang tersembunyi, pupuk organik cair yang digunakan secara nasional ternyata berasal dari Kuningan sendiri, diproduksi dari limbah kotoran sapi di Kecamatan Cidahu dan Cigugur.
“Ironisnya, pupuk ini justru lebih banyak dikirim ke luar daerah. Masyarakat kita sendiri belum memanfaatkannya secara optimal. Ini yang ingin kita ubah dari hulu sampai hilir,” tegasnya.
Program ini bukan semata transfer ilmu. Ia adalah upaya membangun kesadaran baru bahwa menjadi petani tidak harus mahal, tidak harus merusak, dan bisa sangat bermartabat.
Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, Diskatan Kuningan tengah membangun ekosistem pertanian yang lebih tahan banting: mandiri, berdaya, dan selaras dengan alam. Di bawah langit Cipicung dan hamparan sawah yang mulai hijau kembali, revolusi pertanian tidak dimulai dari teknologi mutakhir, tapi dari keberanian mengubah cara pikir. Dan dari sana, masa depan pertanian Kuningan mulai disemai. (red)
