
CIANJUR — Anggapan bahwa anak-anak jalur pendidikan nonformal atau kesetaraan minim prestasi seketika mentah. Kontingen Pendidikan Kesetaraan (PKBM dan SKB) Kabupaten Kuningan justru sukses bikin bangga usai memborong piala di level Jawa Barat.
Tak tanggung-tanggung, mereka resmi dinobatkan sebagai Juara II Kontingen Terbaik dalam ajang Gema Tunas Pramuka Pendidikan Kesetaraan ke-5 Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 yang dihelat di Sarongge Valley, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, (18–20/9/2026) kemarin.
Di tengah kepungan kontingen dari kabupaten dan kota lain se-Jawa Barat, 20 siswa pilihan asal Kuningan yang didampingi 4 pembina dan 1 ketua kontingen ini tampil meyakinkan di berbagai cabang unjuk ketangkasan.
Mulai dari adu kekompakan yel-yel, adu cepat sandi morse dan semaphore, ketepatan memanah, wide games, kerapian baris-berbaris (PBB), Senam Anak Indonesia Hebat, hingga atraksi seni panggung (unjuk kabisa), berhasil disapu bersih dengan torehan poin tinggi.
Kabid Pembinaan PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan, Dicky Mahardika, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat menyambut capaian anak-anak asuhnya.
“Ini pembuktian nyata. Anak-anak kita di jalur kesetaraan punya mental bertarung dan kualitas yang sama persis dengan sekolah formal. Mereka terbukti bisa bersaing, berkarya, dan mengibarkan nama Kuningan di tingkat Jawa Barat,” ujar Dicky penuh semangat.
Dicky menambahkan, raihan manis di Cianjur ini harus jadi pemantik bagi seluruh pengelola PKBM dan SKB di Kuningan agar tak ragu membuka ruang seluas-luasnya bagi minat dan bakat para siswa.
Di sisi lain, Ketua Forum PKBM Kabupaten Kuningan sekaligus Ketua Kontingen, Nurohim, menyebut kunci keberhasilan ini ada pada solidnya kerja sama di balik layar.
“Hasil ini bukan kerja satu dua orang. Ini buah keringat Bersama mulai dari dukungan Pemkab, Disdikbud, para kepala PKBM/SKB, pembina, hingga orang tua yang tanpa lelah mendampingi anak-anak latihan,” kata Nurohim.
Bagi Nurohim, piala dan predikat terbaik kedua ini hanyalah bonus. Nilai terpenting yang dibawa pulang para siswa adalah gemblengan mental, kedisiplinan, serta rasa percaya diri bahwa mereka mampu berdiri sejajar dengan anak-anak daerah lain. ***





