Di balik formalitas tahapan birokrasi, dinamika politik dan administratif di Kuningan bergerak liar. Sumber internal Pemkab Kuningan menyebut bahwa trio U. Kusmana, Deni Hamdani, dan Wahyu Hidayah adalah nama-nama yang paling sering disebut-sebut.
U. Kusmana, yang memimpin sektor pendidikan, dikenal memiliki jejaring luas. Deni Hamdani, dari posisi legislatif, memiliki pemahaman mendalam tentang hubungan antara eksekutif dan parlemen. Sementara Wahyu Hidayah, yang kini sudah menjadi Pj Sekda, secara alamiah memiliki keuntungan karena telah memahami seluk-beluk dapur birokrasi dalam masa transisi. Peluang ketiganya dianggap seimbang. Bukan hanya soal nilai kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan menjaga stabilitas birokrasi dan seberapa besar dukungan politik yang mengiringi.
Kursi Sekda adalah jangkar kapal pemerintahan daerah. Fungsinya krusial, tidak hanya sebagai koordinator seluruh perangkat daerah, tetapi juga sebagai motor penggerak utama kebijakan daerah, terutama di tengah masa transisi pemerintahan. Sosok yang terpilih dituntut memiliki keahlian administratif yang mumpuni, sekaligus lihai menjaga harmoni politik di tengah beragam kepentingan.
Kini, semua mata tertuju pada langkah akhir Bupati Dian Rachmat Yanuar. Keputusannya akan menentukan siapa jenderal ASN yang akan memimpin birokrasi Kuningan dan mengarahkan roda pembangunan daerah ke depan. Penetapan Sekda definitif ini, jika tak ada aral melintang, diperkirakan akan rampung dalam waktu dekat, mengakhiri penantian panjang masyarakat dan ASN Kuningan. (ali)
