Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Kuningan

TPS Sindangsari Berbenah, Mesin Pemilah Jadi Kunci Atasi Lonjakan Sampah

Pemilahan sampah di TPS Desa Sindangsari, Sindangagung, Rabu (22/4/2026)

KUNINGAN – Upaya pembenahan pengelolaan sampah di Desa Sindangsari terus dilakukan. Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang sebelumnya diberitakan overload, kini mulai bertransformasi dengan mengoptimalkan penggunaan mesin pemilah.

Upaya itu dilakukan Pemdes setempat untuk mengurangi beban pengolahan, dan meningkatkan efisiensi penanganan sampah harian.

‎Reni Rohani selaku Kepala Desa Sindangsari mengungkapkan, langkah tersebut diambil setelah metode lama yang hanya mengandalkan insinerator dinilai kurang efektif. Tanpa proses pemilahan, kata dia, seluruh jenis sampah langsung dibakar, sehingga kapasitas alat menjadi kewalahan dan proses pembakaran tidak berjalan maksimal.

‎“Dulu semua sampah langsung masuk insinerator. Akibatnya beban terlalu berat, dari pagi sampai sore pun tidak selesai,” ungkapnya, Selasa, (21/4/2026).

‎Kini, Reni menyebut, sistem pengolahan mulai ditata ulang. Sampah yang masuk langsung dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah bernilai ekonomis seperti plastik tertentu dipisahkan untuk dijual, sementara jenis plastik lain yang tidak dapat dimanfaatkan diarahkan ke insinerator. Dengan cara tersebut proses pembakaran menjadi lebih ringan dan efisien.

‎Sementara itu, sampah organik juga mulai dipisahkan, meski pengolahannya masih dalam tahap pengkajian. Pihaknya tengah mempertimbangkan sejumlah metode, termasuk pengolahan menjadi kompos atau pupuk organik melalui kombinasi dengan bahan lain seperti kotoran hewan.

‎Perbaikan sistem tersebut juga didukung dengan pembenahan mesin pemilah yang sebelumnya sempat mengalami kerusakan. Menurutnya, kini alur pengolahan menjadi lebih terstruktur dan terkendali.

‎“Sekarang alurnya lebih jelas. Sampah masuk, langsung dipilah. Jadi beban insinerator tidak terlalu berat,” katanya.

‎Meski demikian, menurutnya, masih banyak tantangan yang dihadapi, terutama terkait tingginya volume sampah harian yang cukup besar. Sedangkan alat yang digunakan saat ini hanya menargetkan penyelesaian pemilahan sampah yang setiap hari diantar oleh 3 motor sampah.

Baca Juga :  Longsor di Wisata Cilengkrang, Ini Penyebabnya

‎Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah juga menjadi bagian dari kendala. Berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan, namun partisipasi warga dinilai masih belum optimal.

‎Ia menilai, peran lingkungan terkecil seperti RT dan RW menjadi kunci dalam membangun kebiasaan baru masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan dan pendekatan persuasif diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku warga.

‎Saat ini, sebagian sampah masih dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciniru. Namun ke depan, pihaknya menargetkan mampu mengelola sampah secara mandiri di tingkat desa.

‎”Ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk bagaimana caranya agar di tahun 2029 nol sampah,” tutupnya.