SALAH SATU identitas yang melekat dalam diri kader HMI adalah buku. Sebab, selain melalui diskusi, hanya dengan bukulah intelektualitas dapat diasah. Namun ironisnya, realitas kader hari ini justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Ketika ada kader lain yang sedang membaca buku atau aktif berdiskusi, sering kali justru dianggap “sok-sokan”.
Padahal, membaca dan berdiskusi adalah keniscayaan yang seharusnya melekat dalam diri setiap kader HMI sebagai upaya meningkatkan nalar intelektual. Lalu, apa jadinya jika seorang kader HMI tidak suka membaca dan tidak rajin berdiskusi? Percuma masuk HMI jika hanya sekadar menumpang nama. Sebab HMI ditujukan bagi mahasiswa Islam yang ingin berkembang dan tumbuh menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT. Itulah sejatinya tujuan seorang kader HMI.
Maka bagaimana cara agar tujuan tersebut dapat dicapai? Tentu saja seorang kader harus sering “berpacaran” dengan buku, menyelaminya secara mendalam, serta berenang di tengah dinamika forum-forum diskusi. Dengan demikian, ilmu pengetahuan akan terus bertambah dan membentuk mahasiswa Islam sejati yang memiliki nalar intelektual matang serta siap menjadi insan kamil yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.
HMI didirikan atas dasar keresahan Lafran Pane. Pada masanya, ia melihat banyak mahasiswa yang telah memiliki gelar akademik, tetapi cara berpikirnya jumud dan tidak berkembang. Akibatnya, sering terjadi perdebatan yang tidak produktif, seperti memperdebatkan persoalan-persoalan furu’iyah dalam fikih yang seharusnya sudah selesai.
Dari keresahan itulah Lafran Pane berkeinginan mendirikan organisasi mahasiswa Islam yang independen, yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa. HMI hadir agar mahasiswa tidak terjebak pada persoalan-persoalan kecil yang menghambat kemajuan berpikir. Pada akhirnya, seorang kader HMI diharapkan mampu menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Melihat latar belakang tersebut, sudah seharusnya seorang kader HMI memiliki nalar intelektual yang matang. Kader dituntut untuk peka, kritis, dan responsif terhadap isu-isu sosial yang menjadi keresahan masyarakat. Namun faktanya, persoalan intelektual justru sering diabaikan. Banyak kader yang seharusnya memiliki gagasan matang, tetapi enggan mengasah keterampilan intelektualnya. Akibatnya, tidak ada karya yang dihasilkan, bahkan waktu berorganisasi hanya terbuang sia-sia.
Berdasarkan penelusuran dan penelitian sejarah, Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsa berdirinya HMI dan menyebutnya sebagai pendiri HMI. Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan pada 5 Februari 1922, sebagai anak keenam dari Sutan Pangurabaan Pane.
Pendidikan Lafran Pane tidak berjalan secara normal dan lurus. Ia terinspirasi oleh gerakan pelajar Islam pada masa Hindia Belanda, seperti Jong Islamieten Bond (JIB) dan Student Islamic Studenten (SIS). Lafran mengalami perubahan kejiwaan yang cukup radikal hingga mendorongnya mencari hakikat hidup yang sejati.
Pada Desember 1945, Lafran Pane pindah ke Yogyakarta mengikuti kepindahan Sekolah Tinggi Islam (STI) dari Jakarta. Pendidikan Islam yang lebih intensif ia peroleh dari para dosen STI, yang kemudian membentuk pandangan keislamannya secara lebih matang.
Bagi Lafran Pane, Islam adalah satu-satunya pedoman hidup yang sempurna, karena Islam menjamin keselamatan dan kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Pada tahun 1948, ia melanjutkan studi ke Akademi Ilmu Politik (AIP). Ketika Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dan Fakultas Kedokteran di Klaten serta AIP Yogyakarta dinegerikan pada 19 Desember 1949 menjadi Universitas Gadjah Mada (UGM), Lafran Pane tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama UGM. Ia meraih gelar sarjana ilmu politik pertama dari fakultas tersebut pada 26 Januari 1953.
Sejak menjadi mahasiswa, Lafran Pane aktif mengamati dan memikirkan perkembangan sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Ia menangkap realitas historis serta berbagai persoalan bangsa, lalu mengangkat idealisme spiritual menjadi gagasan yang empiris dan konstruktif sebagai respons terhadap tantangan zaman.
Setelah berulang kali mencoba mengadakan forum pembicaraan yang selalu menemui kegagalan akibat penentangan dari beberapa organisasi mahasiswa, akhirnya pada Rabu Pon, 14 Rabiul Awal 1366 H atau bertepatan dengan 5 Februari 1947, secara resmi dideklarasikan berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) oleh Lafran Pane bersama 14 orang lainnya, antara lain Kartono Zarkasyi, Dahlan Husein, Siti Zainah, Maisaroh Hilal, Soewali, Yusdi Gozali, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Tayeb Razak, Toha Mashudi, Bidron Hadi, Zulkarnaen, dan Mansyur.
Secara kontekstual, latar belakang munculnya pemikiran HMI meliputi penjajahan Belanda dan tuntutan perjuangan kemerdekaan, kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan dan pengamalan ajaran, dan kebutuhan akan pemahaman dan penghayatan keagamaan. Kemudian polarisasi politik, berkembangnya paham komunisme di kalangan masyarakat dan mahasiswa, kedudukan strategis perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan, tuntutan kemajuan bangsa Indonesia, dan tantangan modernisasi dan masa depan.
Tahun-tahun awal sejarah HMI hampir identik dengan perjalanan hidup Lafran Pane sendiri. Ia memiliki peran paling besar dalam lahirnya HMI. Sebagaimana tertulis dalam salah satu media tahun 1957, Lafran Pane tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya HMI. Oleh karena itu, memahami pemikiran Lafran Pane berarti memahami latar belakang pemikiran HMI itu sendiri yakni pemikiran yang lahir dari dialektika panjang antara Islam, keindonesiaan, dan realitas sosial zamannya.*
Penulis: Hanief Nurmaulana, Kader HMI Unisa Kuningan.
previous post
