KUNINGAN – Tepat pada 1 Mei 2026, Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (Gempa) memasuki usia ke 12. Hari jadi tersebut direfleksikan oleh Eks Ketua Gempa periode 2018-2020, Nova Rizky Sugema.
Menurutnya, momentum hari jadi tersebut tidak cukup dimaknai sebagai seremoni semata, melainkan sebagai ruang refleksi atas kondisi alam yang kian terancam. Ia menilai, dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap lingkungan semakin nyata, mulai dari alih fungsi lahan, berkurangnya kawasan hutan, hingga menurunnya daya dukung alam.
“Hari ini kita tidak lagi bicara soal alam sebagai ruang petualangan semata. Alam sedang berada dalam fase krisis, dan itu menuntut peran lebih dari organisasi pecinta alam,” ujarnya, Jum’at (1/5/2026).
Nova menegaskan, selama ini aktivitas pecinta alam kerap identik dengan pendakian dan eksplorasi. Padahal, kata dia, tantangan zaman menuntut adanya transformasi peran, dari sekedar penikmat alam menjadi aktor yang aktif dalam menjaga dan memperjuangkan kelestariannya.
Ia juga menyinggung filosofi yang melekat pada identitas organisasi. Simbol kuda yang diusung Gempa Al-Ihya, menurutnya, bukan sekedar lambang, tetapi memiliki makna kekuatan, kecepatan berpikir, dan keberanian dalam menghadapi dinamika.
“Nilai itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Berani bersuara ketika lingkungan terancam, cepat merespons isu ekologis, dan kuat dalam membangun kolaborasi,” katanya.
Selain itu, syal berwarna oranye yang menjadi ciri khas organisasi dimaknai sebagai energi, kreativitas, dan optimisme. Namun, Nova mengingatkan bahwa optimisme tanpa aksi hanya akan menjadi ilusi di tengah krisis lingkungan yang terus berlangsung.
“Energi dan kreativitas kader harus diarahkan pada solusi konkret, bukan hanya wacana,” tegasnya.
Ia pun mendorong agar Gempa Al Ihya mampu mengambil peran strategis sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Dengan basis intelektual mahasiswa, organisasi tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mengedukasi masyarakat, mengawal isu lingkungan, hingga mendorong kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam.
“Refleksi 12 tahun ini harus menjadi titik balik. Dari sekedar pecinta alam, menjadi penjaga alam. Karena mencintai saja tidak cukup tanpa tindakan nyata,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Nova menegaskan bahwa tantangan terbesar Gempa Al Ihya di usia ke-12 bukan hanya bertahan sebagai organisasi, tetapi membuktikan keberpihakan nyata terhadap alam.
“Pertanyaannya bukan lagi seberapa sering kita datang ke alam, tapi seberapa besar kontribusi kita dalam menjaganya,” tutupnya.
Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi
