
KUNINGAN – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai dirasakan masyarakat hingga ke tingkat pelosok desa. Salah satunya, harga oli kendaraan bermotor dalam beberapa pekan terakhir mengalami lonjakan yang cukup signifikan.
Yak ayal, kondisi itu menambah beban hidup masyarakat desa dalam merawat kendaraannya. Jika biasanya cukup 50 – 60 ribu, hari ini mencapai 70 – 75 ribu.
Hal itu diungkapkan oleh Abdul, pemilik bengkel motor RBN, tepatnya di Jalan Tambakbaya, Kecamatan Garawangi. Menurutnya, kenaikan harga oli terjadi hampir pada berbagai merek yang beredar di pasaran dan mulai dirasakan sejak beberapa waktu terakhir.
”Sebagian besar oli yang kami jual mengalami kenaikan harga. Ada yang naik beberapa ribu rupiah per botol, bahkan ada juga yang lebih. Kondisi ini membuat biaya servis kendaraan otomatis ikut bertambah,” ujarnya, Senin, (1/6/2026).
Abdul menjelaskan, kenaikan harga tersebut diduga dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pasalnya, bahan baku maupun produk oli tertentu masih bergantung pada impor sehingga sangat sensitif terhadap perubahan kurs mata uang asing.
Selain itu, dia menilai, memanasnya hubungan geopolitik dan ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dengan Iran turut memengaruhi kondisi pasar global. Situasi tersebut berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia yang pada akhirnya ikut berpengaruh terhadap harga produk turunannya, termasuk oli kendaraan.
“Kalau harga minyak dunia naik, biasanya berpengaruh juga ke harga oli. Ditambah nilai dolar yang menguat, akhirnya harga dari distributor ikut naik dan kami di bengkel harus menyesuaikan,” katanya.
Meski harga oli mengalami kenaikan, Abdul mengaku permintaan dari konsumen masih relatif stabil. Sebab, penggantian oli merupakan kebutuhan perawatan rutin yang tidak bisa ditunda terlalu lama jika ingin menjaga performa mesin kendaraan tetap optimal.
Kenaikan tersebut juga diungkapkan oleh salah satu konsumen, Falah Al Fazri. Ia menyebut biaya perawatan kendaraan yang biasa dikeluarkannya kini menjadi lebih besar dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
”Biasanya lima puluh hingga enam puluh ribu, sekarang lumayan melambung tinggi hingga tujuh puluh ribuan,” ujarnya.
Meski demikian, Falah mengaku tetap rutin melakukan penggantian oli sesuai jadwal. Menurutnya, perawatan berkala jauh lebih penting dibanding harus menanggung biaya perbaikan mesin yang jauh lebih mahal akibat telat mengganti oli.
”Oli ini kan menjadi kebutuhan rutin minimal tiga bulanan. Daripada tidak diganti oli, bisa menyebabkan turun mesin,” tutupnya.
Sebagai informasi, adapun harga satu dolar per 1 Juni, sebesar Rp17.811,90 rupiah. Angka tersebut cukup signifikan dari awal Mei hingga sekarang.




